The Arsenal Way
Mikel Arteta Edition
Same period. Different year. Different feelings.
What a time to be alive.
Kilas balik ke 19 Mei 2024, pekan terakhir Premier League 2023/24. Masih ada harapan juara. Masih segar di ingatan ketika kita butuh kemenangan lawan Everton sembari berharap Manchester City terpeleset lawan West Ham.
Kita tau kala itu belum waktunya.
Gue masih bisa recall apa yang terjadi di pikiran gue. Menepi sebentar dari bubaran nobar di Jakarta, gue ketik pesan untuk tim - seakan-akan mereka akan baca.
Jadi, yang saya rasakan saat ini...
Saya kecewa, sedih, dan marah bersama tim, namun tidak sama sekali kecewa, sedih, dan marah dengan tim.
Begitulah yang saya maksud ketika saya bilang saya merasa lega...
...dan saya yakin saya nggak merasakan ini sendirian, kan?
I believe we are connected. The Team and The Fans.
Habis ini, kita tatap musim berikutnya. Kasih yang terbaik buat support tim... Saya percaya kalau tim ini nggak akan menyia-nyiakan energi dari fans di seluruh dunia. Saya percaya tim ini masih bisa berkembang.
Lalu, kita akan tiba pada hari di mana seluruh rasa bahagia di dunia ini, kita bagi sama rata ke tim ini, Arsenal Football Club, dan pendukungnya di seluruh dunia.
Victoria Concordia Crescit.
Lalu 20 Mei 2026 datang. Peluit akhir Bournemouth vs Manchester City di Vitality Stadium itu membuat pemain, staf, dan seluruh fans Arsenal sedunia berhamburan dengan berbagai macam emosi. Gue gak tau harus bagaimana mendeskripsikannya.
Tapi yang jelas…
OOOOOOOH, sometimes I get a good feeling, yeah
Get a feeling that I never, never, never, never had before, no, no
I get a good feeling, yeah
Lo tau gak titik inti spesialnya momen ini? Lo harus inget musim ini hampir selalu kita main 3 hari sekali. Banyak banget yang harus dilakukan. Selalu bergerak. Stamina terkuras. Tapi justru kepastian gelar ini kita dapatkan dalam keadaan tim ini sedang diam dan menanti hasil pertandingan rival terdekat.
Jika Manchester City gagal menang, selesai sudah. Arsenal fix jadi juara.
Bayangin di momen krusial, lo nggak punya kontrol untuk menentukan nasib. Cuma bisa menyaksikan dan berharap yang terbaik
Mungkin untuk pertama kalinya, para pemain, staf, termasuk Mikel Arteta ada di posisi yang sama dengan fans karena cuma bisa nonton aja… Wkwkwk.
Staying still. Diam di momen menegangkan itu hampir gak mungkin. Gue jamin lo gak ada yang duduk tenang waktu nonton Bournemouth vs City. Pasti ada aja mondar-mandir, gerak-gerakin badan. Itu semua reaksi alamiah.
Di wawancara dengan Sky Sports, Saka bilang kalau Rice gak bisa nonton match itu waktu mereka nobar di Sobha. Rice pecicilan banget. Katanya, dia ngajak salah satu satpam di Sobha, namanya Pete, buat lari keliling lapangan bareng dia selama 40 menit.
Kalau biasa nonton Arsenal, paham kan yang dirasakan Rice?
Waktu itu, Mikel Arteta juga memilih buat gak nonton. Bahkan untuk cek HP dan dengar suara komentator pun ia nggak lakukan.
“I was supposed to be here at Colney with the players, and certain staff, because that’s what they wanted. But I couldn’t. Twenty minutes before the game, I had to leave. I couldn’t bring the energy that I wanted.
“It was their moment to be together, watch it themselves and just see what the outcome would be.
“I went home, went outside to the garden, started to build some fire and started to do some barbecue. I didn’t watch any of it. I was just hearing noises in the background and the living room, then the magic happened.
“My oldest son opened the garden door, ran towards me, started to cry, gave me a hug and said ‘We’re champions Daddy.’”
Mikel Arteta
Di momen paling menentukan, bos kita yang biasanya pecicilan di pinggir lapangan itu harus berdiam diri. Pulang ke rumah, ketemu anak istri, ke pekarangan rumah nyalain barbeque… Sungguh sebuah usaha seorang bapak-bapak untuk tetap chill.
Dalam panasnya situasi, Mikel Arteta memilih untuk refleksi dan menyendiri.
Sama seperti Arteta waktu menunggu hasil pertandingan Bournemouth vs Manchester City, di tulisan ini gue juga akan refleksi satu musim ke belakang. Such an emotional rollercoaster. Selebrasi, tegang, pahit, selebrasi lagi, selebrasi terus.
Tapi yang terpenting, apa yang bisa dipetik buat diri gue sendiri dari perjalanan Arsenal jadi juara?
Chapter 1: The Gut Feeling - Semua Berawal dari Rumah
“It was the way that I think it had to happen.”
Arteta ditanya gimana rasanya merayakan juara liga ketika lagi gak main, dan jawabannya… Mungkin kejadiannya memang harus seperti itu, katanya.
“And if I wanted to be closer to somebody, it was my kids and my wife first.”
Mungkin ada sebagian dari kita, yang kalau bisa memilih, akan pilih untuk memenangkan gelar di atas lapangan dan bukan dari hasil tim lain. Namun, skenario menang liga via hasil tim lain justru menjadi lebih bermakna untuk Mikel Arteta. Ia bisa berada bersama keluarga terdekatnya di momen itu.
“I think she’s the person and the reason why I kept the composure. I think, my self-confidence. I would say the energy at the level that it was required. To do what we’ve done, in the last six and a half years.”
Kemudian Arteta bercerita mengenai peran istrinya, bagaimana ia mendukung dan menjaga Arteta untuk terus berdiri tegar dan membawa Arsenal sampai di titik ini. Juara Premier League 2025/26.
Terus gue jadi penasaran, siapa sih istrinya Arteta ini? Perkenalkan, Lorena Bernal, Miss Spain 1999. Sekarang dikenal sebagai Life & Spiritual Coach.
(Begitu tau background Lorena Bernal sebagai Life Coach, I think it’s safe to say bahwa tindak-tanduk Arteta di Arsenal ada pengaruh istrinya juga, wkwk.)
Gue menemukan kutipan yang masih nempel di kepala. Dari interview Lorena Bernal:
“If you enter coaching wanting to be admired, recognised, or seen as ‘the best,’ you are focusing on yourself — not on the person in front of you.” She then adds: “There is a very subtle but powerful shift between ‘I want to be a successful coach’ and ‘I want to serve.’ When you truly serve, success becomes a consequence — not the goal.”
Lorena Bernal
Gue jadi memahami kenapa Arteta memilih untuk menjauh dari timnya dan membiarkan spotlight di para pemain ketika mereka juara. Gue pernah diajarin bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, itu lo bukan jadi yang di atas segalanya, tapi justru gimana lo bisa “serve others.”
Gue yakin banget kepuasan Arteta melihat timnya akhirnya bisa juara itu tak terhingga. Ada rasa kebanggan tersendiri ketika seorang pemimpin bisa mengantar timnya mencapai tujuan bersama.
Makanya, dia gak perlu validasi lebih dan bersedia menepi di momen selebrasi.
Kenapa gue membuka tulisan ini dengan membahas keluarga Arteta? Itu juga terinspirasi dari kutipan Lorena Bernal yang ini:
“I protect my time and energy, especially when it comes to my family, because I know that my personal life is not separate from my professional one — it’s the foundation of it.”
Personal life adalah pondasi professional life. Jadi, gue percaya apa pun yang dijalankan Arteta, sedikit banyak mengacu ke values yang ia anut di level personal dan keluarga.
Lo udah tau lah bahwa metode coaching Arteta ini seringkali unorthodox, atau kalau lo benci Arteta, lo akan sebut ini cringe.
Misalnya:
Nanem pohon di training ground
Adopsi Win sebagai therapy dog
Ngundang copet ke dinner, dan masih banyak lagi…
Kadang kita menilai metode itu dari hasilnya. Kemarin runner up, ada aja yang bilang metode-metode ini cringe. Tapi ketika juara, akan bisa dijustifikasi. Gue sih ngambil intention-nya aja. Bahwa ini adalah metode coaching yang original a la Arteta.
“Coaching is not a formula — it’s an expression of who you are. When you try to imitate, you disconnect from your authenticity.”
Lorena Bernal
Ketika lo liat pemimpin lo melakukan segala cara supaya bisa bantu lo perform, lo akan bisa merasakan niat yang genuine, dan itu akan jadi bahan bakar lo buat berjuang demi tim.
“When your intentions are truly clear, they shape your decisions, your energy, and ultimately your actions.”
Lorena Bernal
Kemudian, dari sisi pemimpin, keputusan yang diambil seolah ngalir gitu aja karena udah membangun sinkronisasi yang alami dengan timnya. Sehingga, bisa aja, kadang keputusan gak terlalu diulik tapi tim setuju dan hasilnya baik.
Intuisi.
Atau dalam istilah Arteta: Gut Feeling.
Mari kita menengok pertandingan Arsenal vs Everton (H). Skor akhir 2-0, namun gol pertama baru bisa dicetak di menit 89 dari Viktor Gyokeres dan gol kedua - gak akan ada yang lupa - dicetak oleh anak sekolah bernama Max Dowman.
Masuknya Max Dowman adalah pengubah momentum. Dari menit 65-75, serangan Arsenal rada mentok gara-gara aliran bola ke depan nggak lancar dan lawan berhasil memanfaatkan celah untuk berduel dan sesekali masuk ke area pertahanan kita.
Bisa dilihat di grafis, masuknya Dowman mengubah itu semua.
Dalam 15 menit-an Dowman main, ia menerima 17 operan. Untuk ukuran penyerang yang baru masuk di menit 75, terima 17 operan itu banyak banget. Sinyal bahwa rekannya percaya pada Dowman dan berekspektasi ia akan melakukan sesuatu.
Nyatanya, Dowman memang melakukan sesuatu yang sangat sesuatu! Mengirim umpan yang menjadi awal gol Gyokeres, dan mencetak gol di menit-menit akhir.
Dowman, mengisi sayap kanan, nggak jarang dikepung lebih dari satu pemain ketika terima bola. Yang bikin Dowman dipercaya megang bola terus, ia bisa terus menemukan cara-cara untuk lepas dari kepungan lawan.
Cara main Dowman bisa gue bilang nge-’flow’. Gue sempet berpikir, masa sih lawan kasih gampang buat Dowman lewat mentang-mentang baru 16 tahun? Kayaknya nggak mungkin. Tapi, Dowman memang membuat gerakan mengecoh itu terlihat mudah, sehingga lawan kewalahan, bahkan terpaksa melanggar.
Paling gong ya pas golnya itu. Tenang.
Meskipun gawang kosong, melewati dua pemain Premier League bukanlah tugas yang simpel, terlebih untuk anak umur 16.
Namun Dowman seperti sudah punya visi mau melakukan apa. Ia sudah melakukan pergerakan sebelum lawan bereaksi. Top goal!
Yang gue benar-benar apresiasi adalah Dowman yang benar-benar dipercaya untuk handle bola di situasi genting butuh gol.
Arteta ditanya, bilang apa ke Dowman waktu masukin dia ke lapangan. Katanya: Go and do your thing and win us the game!
Lalu, pas Arteta ditanya jurnalis tentang alasannya mainin Dowman. Jawabnya:
“Probably in my head I had a gut feeling. In the last few days in training and I had a gut feeling that it was a moment for him.”
Looking back, ini adalah keputusan besar yang berharga 3 poin. Datangnya dari mana? Intuisi. Yang kalau di-trace back, kita akan menemukan nilai-nilai sumber intuisi tersebut di rumah keluarga Arteta.
Chapter 2: Kita Butuh SEMUA Melakukan Perannya
Pikiran gue melayang ke pertandingan Premier League ke-5. Arsenal vs Manchester City (H) yang berakhir imbang, 1-1. Arsenal menyamakan kedudukan di menit-menit akhir pertandingan. Gol dicetak oleh Gabriel Martinelli. Gol satu-satunya Martinelli di Premier League
Kadang di gue terlintas pikiran kayak gini: “Anjrit kalau waktu itu Martinelli gak golin lawan City, berarti sekarang belum juara nih. Soalnya poin kita ngurang 1, poin City nambah 2. Berarti kita juara karena gol Martinelli yang cuma satu di liga itu???”
Well… Bisa jadi. Tapi gini.
Martinelli itu yang menarik pelatuk untuk tembakan terakhir, namun perubahan proaktif Arteta di awal babak kedua lawan Manchester City yang jadi pemicunya.
Waktu lawan City di Emirates, salah satu hal yang gue pengen liat apakah kita bisa mengosongkan zona bek kanan lawan untuk dapat space di sana.
Gue duga sih Trossard dipakai di sana untuk menarik Khusanov (RB) agak ke tengah dan zona tersebut bisa diisi oleh Calafiori maupun Gyokeres. Kenapa bukan diisi Eze? Entah ya.
Namun, karena City berhasil mencuri gol di awal pertandingan, mereka nggak ragu buat tarik garis pertahanan mundur ke belakang, sehingga space yang diharapkan terbuka itu nggak terbuka-terbuka amat.
Malahan, Phil Foden sering membayangi saat Calafiori ada di depan. Gw gak pernah kebayang seorang Pep pasang penyerangnya buat menjaga seorang bek tengah yang ditaro di kiri. Kata pundit kan kita main 4 CB, tapi kok ya ngejaga “CB” sampe segitunya. Hehehe…
Lalu, setelah half-time masuk Eze dan Saka, langsung berubah arah angin permainan kita. Sebenarnya, kalau boleh sih mereka udah masuk dari menit 20 malah, ketika udah jelas City tarik mundur pertahanan, mulai ulur waktu, dan cari counter, wkwk.
Saka is the key. Ketika ada peluang atau shot yang bagus tercipta di babak kedua, kalau kita rewind 2-3 gerakan sebelumnya, ada Saka yang terlibat di sana. Entah dari dribel, operan, maupun keeping bola.
Makin match berjalan, makin sulit kita untuk tembus karena Pep memutuskan untuk pasang 5 bek, dan Rodri, dan Nico Gonzalez.
Ada Eze dan Saka pun susah buat kita penetrasi lewat tengah. Belum lagi sekalinya bisa dapat shot yang bagus, eh ada Donnarumma. Kita dapat set piece, Donnarumma bagus banget antisipasi crossing-nya.
Hampir nyerah.
Hingga momen itu tiba. Eze mengirim umpan direct, posisi saat itu jauh dari keramaian, ke Martinelli yang sudah ancang-ancang membuat gerakan lari.
Di situasi itu, ada Gyokeres yang memposisikan dirinya di offside, dan akan ikut lari ke depan ketika bek City membayangi dirinya. Jadi situasi saat itu, pertahanan City pecah fokus antara Martinelli dan Gyokeres.
Lalu, Martinelli kembali mencetak gol sebagai supersub. Ketika ia main lebih berat ke intuisi, hasilnya malah lebih oke daripada dia yang harus menginisiasi serangan. Intuisi.
Martinelli adalah pemain pengganti yang terakhir masuk, sentuhannya sedikit (5) namun satunya jadi gol. Seakan memang dari awal fokus kejar finishing.
Di momen inilah gue sadar kalau mungkin gak semua pemain akan main bagus setiap hari, tapi setiap pemain harus fokus menjalankan perannya dengan maksimal ketika dibutuhkan, dan peran tersebut akan bermakna besar di momen yang tepat. Ya, seperti Martinelli ini.
Semua punya peran.
Di akhir laga tersebut, poin kita dari 5 laga adalah 10. Tertinggal 5 poin dari Liverpool di posisi pertama kala itu. Tanpa gol Martinelli, kita tertinggal 6 poin.
Di laga setelahnya, kita ketemu Newcastle (A) dan, ya, mereka yang masuk lapangan sebagai pengganti kembali menjadi penentu. Merino dengan golnya dan Odegaard dengan assist via corner ke Gabriel!
Dua laga di awal musim ini jadi momentum yang vital. Setelah ketemu City, beda 5 poin dengan pemuncak klasemen. Kemudian jika kita menang lawan Newcastle, selisih poin bisa dijaga. Jika drop points lagi, maka selisih akan menjadi 7 atau 8, sangat berat untuk di awal musim. And we did win.
Lebih manisnya lagi, di pekan yang sama, Liverpool menelan kekalahan pertamanya di liga atas Crystal Palace. Poetic moment happened. Eddie Nketiah mencetak gol di menit akhir sehingga selisih poin Arsenal dan Liverpool jadi tinggal 2.
Ketika gue merayakan keberhasilan David Moyes & Andoni Iraola menahan imbang City, sontak teringat gol Nketiah lawan Liverpool… Bala bantuan Arteta ini, haha. Mereka memainkan perannya.
Jika kita bicara soal pemain yang memainkan perannya ketika diberi kesempatan, nggak ada nama yang lebih cocok dibicarakan selain Mikel Merino. Bisa-bisanya ketika kita udah punya 3 striker, semuanya cedera dan ujung-ujungnya opsi Merino sebagai striker kembali muncul…
Mikel Merino menjadi striker dengan caranya sendiri. Ia memang bukan tipe striker yang selalu menekan bek tengah macam Gyokeres, tapi semakin ke sini Merino semakin fasih memfasilitasi penyerang lain seperti Eze dan Trossard. Jadi ingat waktu Kai Havertz awal-awal 2024 rutin jadi striker.
Misalnya ketika NLD, seakan Merino yang jadi gelandang dan Eze yang jadi striker. Merino bisa drop deep buat bantu build up atau mancing bek, atau stay di depan buat menangin duel udara.
Walaupun Merino memainkan peran hybrid sebagai gelandang dan striker, peran “striker” tidak hilang dari Arsenal karena adanya Trossard, Eze, dan Saka yang punya finishing oke. Otak dan tubuhnya terus bergerak dan menjadi salah satu motor penggerak serangan Arsenal.
Mikel Merino, terus relevan di tengah skuad yang makin upgrade. Now he’s back from injury to strengthen our squad in the Champions League final!
Ada lagi?
Ada.
Leandro Trossard. Martin Odegaard. West Ham Away.
This is the defining moment. Lebih berkesan lagi karena kedua pemain ini yang menjadi aktor utamanya. Leandro Trossard struggling sepanjang 2026 tanpa berhasil mencetak gol, kemudian Martin Odegaard bahkan untuk bermain saja struggling karena bolak-balik cedera lutut.
Tapi, seperti yang gue bilang. Mungkin semua pemain gak akan main bagus terus, tapi gue percaya setiap pemain akan melakukan perannya.
I saw Trossard and heard him shouting, I took two touches to give him a better angle. He is always there for the big moments.
Martin Odegaard
You know what’s even better? Entah udah berapa kali kita komplain ke Odegaard soal sentuhan bolanya. Atau biasa dibilangnya nge-delay. Sebagai penonton, kita punya ekspektasi Odegaard kirim “umpan segitiga” all the time.
Tapi sebenarnya tujuan Odegaard adalah menciptakan situasi bagaimana caranya supaya pemain-pemain lain dapat cue untuk masuk ke posisi optimal untuk cetak gol. Tendensi Odegaard adalah untuk servis pemain lain, dan kali ini buahnya adalah gol yang super masif!
Lalu siapa lagi yang ikut berperan di West Ham Away?
After review, West Ham number 19 committed a foul on the goalkeeper. Final decision: direct free kick.
Better than ‘I love you’
Ada 3 huruf, inisialnya VAR.
Kali ini VAR memberikan keputusan yang tepat dan teliti. Gak boleh itu kiper digeprek segitunya. Itu melanggar aturan… Lagian mau pake dark arts ke yang empunya. Ya gak mempan.
Belum lagi ngomongin Havertz.
Dengan fisik yang seadanya dan belum sembuh benar, he came clutch di momen-momen run-in. Gol penyama kedudukan vs City. Assist pembuka vs Newcastle. Gol semata wayang vs Burnley yang mengunci gelar. Kai gak sedang dalam kondisi terbaiknya, tapi tetap memberikan hasil nyata.
Kalau mau kita runut, hampir semua pemain punya momen besarnya sendiri. Namun yang jelas, semuanya berperan, dan jujur ada rasa harunya ketika masing-masing bergantian berkontribusi untuk mengantar Arsenal jadi juara liga.
“One thing about this team is the energy level, the commitment, the connection between ourselves and our supporters, and we need to play with that joy. We are a very competitive team, we want to win every single match... but with that fire that is the joy to play with each other and win for matches together”.
Mikel Arteta
Chapter 3: Apresiasi Mereka yang Selalu Ada
Satu nama yang terlintas ketika menulis judul Chapter 3: Martin Zubimendi.
Gak banyak yang nyadar, Zubimendi adalah gelandang bertahan yang keras, meskipun badannya terhitung kecil dan tampangnya gak terlihat galak. Dari Gradient Sports:
Ranking #1 midfielder dalam berduel di PL
Ranking #1 midfielder dalam duel udara di Liga
Ranking #5 midfielder dalam situasi bola 50/50 di Liga
Dan itu semua… Melelahkan. Ada titik di mana tubuhnya tak lagi mendengarnya sebaik di awal musim.
Musim pertama di Arsenal, Zubimendi main 4.569 menit di semua kompetisi musim 2025/26. Dia adalah pemain yang lari paling banyak di liga, dan mulai keliatan efeknya. Jujur gue berharap ia bisa sekonsisten Declan Rice dalam hal energi di lapangan, tapi jika memang lelah, ya gimana…
Source: TMTalksBall/YouTube
Memang Zubimendi ini adalah salah satu pemain yang banyak berlari tanpa bola untuk support rekan-rekannya. Satu waktu ia bisa bergerak mendekat ke pemain sayap, satu waktu bergerak masuk di antara dua center back. Satu waktu menjadi seperti inverted full-back, satu waktu bisa masuk ke kotak penalty untuk membantu penyerangan a la Gundogan.
Begitu pegang bola, Zubimendi melakukan tugasnya dengan cara yang simpel. Pass, move, pass, move. Ya sesekali lah hollywood pass a.k.a “umpan segitiga”. Dalam kondisi terbaiknya, Zubimendi bisa terima bola di mana aja sesuai kebutuhan tim. Terlihat simpel, namun sepertinya cuma dia yang bisa.
Source: TMTalksBall/YouTube
Pasalnya, Zubimendi juga tidak gagap dalam mengantisipasi serangan balik lawan. Ia memosisikan diri sehingga bisa mengawasi pergerakan lawan ketika membangun serangan. Makanya, gue membuka bahasan Zubimendi dengan catatan bertahannya.
Namun, trade-off dari cara main Zubimendi adalah tuntutan yang besar untuk terus berlari. Kekhawatirannya adalah mempertahankan dalam semusim yang bisa main sampai 60 kali. Jika fatigue udah mulai masuk, keputusan-keputusan juga lebih rawan error, yang bisa berujung blunder.
Menurut gue, ini faktor di balik menurunnya form Zubimendi setelah Februari 2026.
Untuk menyiasatinya, Martin Zubimendi ditukar posisinya dengan Declan Rice dan perannya lebih simpel. Rice yang lebih banyak pegang bola di fase build-up, sedangkan Zubimendi lebih ke arah “nomor 8” yang main box-to-box dan menyapu transisi serangan balik lawan.
Zubimendi bermain lebih baik ketika bertemu Sporting di UCL, Newcastle, dan Atletico Madrid di leg pertama. Tanpa perannya, gak akan ada gol penalty Gyokeres di Wanda Metropolitano.
Namun, mau bagaimana pun, kelihatan banget Zubimendi tidak seperti paruh pertama musim.
Untungnya kita punya Myles Lewis-Skelly.
Memang butuh waktu, namun akhirnya tiba juga hari di mana kita melihat Myles main di tengah, posisi yang biasa ia mainkan waktu di akademi.
“Because probably I don’t have a clue and maybe I should have done it earlier, I don’t know. But I have to do things when I believe that the player is ready, the team is ready and the opponent is the right one to play with him in that position. We’ve done it today, it’s the first time. It was a big risk because I knew what was going to happen, if he wasn’t this great, we would have lost the game. How do you play a kid at this age, in this scenario, in a position that he hasn’t played all season? I knew that but I had the feeling that it was the right game for him.”
Mikel Arteta
Gue merasa Arteta punya pertimbangan yang panjang untuk akhirnya memainkan Lewis-Skelly di tengah, pindah dari bek kiri. Peran bek kiri musim ini dan musim lalu agak beda. Mungkin Arteta pengen Myles beresin kelemahan duel 1v1 sebelum mantap di tengah, I don’t know?
Gambar kiri: Zona bermain MLS di UCL musim lalu yang lebih berperan membangun serangan dari tengah dan giring bola di zona “Left CM”. Jadi lebih keliatan aura gelandangnya.
Gambar kanan: Zona bermain MLS di UCL musim ini lebih mirip seperti bek kiri murni, karena urusan build-up sudah dipegang sama Zubimendi dan Rice. Perannya berbeda, dan kayaknya jelas ya gak sebagus musim lalu. Di sini, kelemahan MLS jadi terekspos.
*Note: Ambil data dari UCL karena musim ini MLS banyakan main di UCL, biar sample datanya cukup.
Catatan di UCL memperlihatkan bahwa Lewis-Skelly memang lebih cocok buat punya peran membangun serangan dan mengontrol lini tengah.
Jadi cocok juga, karena catatan ini keluar ketika di UCL, kompetisi di mana Rice kadang dirotasi. Jadi ya... Bisa dibilang MLS ini bisa sekalian aja jadi midfielder untuk rotasi dengan Rice dan Merino dan Zubimendi?
Mungkin concern-nya ya, gaya main MLS yang lebih ngeyel buat keep bola dan beradu momentum sama lawan yang nge-press. Bagus sih, bisa lewatin lawan dengan cantik. Kadang juga mancing foul, tapi kalau nggak lewat, rentan banget kena counter. Makanya, MLS awal mainnya di bek kiri supaya gak di-press dari segala penjuru.
Namun, sepertinya kepingan puzzle untuk memainkan Lewis-Skelly di tengah ini bisa tersusun berkat referensi peran Zubimendi dan Rice yang ditukar. Rice yang steady di dekat para bek bisa menjaga Lewis-Skelly yang lebih adventurous, sambil sesekali bertukar posisi. Cocok ini.
Per 90 menit, jika kita bandingkan peran Lewis-Skelly dan Zubimendi, kita akan melihat pergerakannya dengan bola. Oper-operan maupun umpan ke daerah lawan mirip-mirip. Ada yang Zubimendi lebih oke, ada yang Lewis-Skelly lebih oke. (No, Zubimendi gak back pass mulu).
Namun, dari sisi “ball carrying” dan “attacking duel”, Lewis-Skelly lebih unggul. Kita paham lah, ini dari perbedaan gaya main. MLS memang lebih punya tendensi giring bola langsung ke depan, dan ya itu tadi yang gue bilang, keep bola untuk adu kuat sama presser-nya.
Gaya main ini, dipadukan dengan Rice yang berpatroli mengontrol lini tengah, akan menjadi angin segar untuk perjalanan Arsenal di title race. Lewis-Skelly membuktikannya dengan bermain sangat apik ketika pertama kalinya menjadi starter di lini tengah melawan Fulham (H) pada Gameweek 35 Premier League.
Tapi yang lebih penting, gue bisa bilang, tanpa adanya referensi dari gaya main Zubimendi, bisa jadi peran untuk Lewis-Skelly gak ikut berevolusi.
Jadi, kembali lagi. Setiap individu di tim punya peran. Porsinya lebih banyak, porsinya lebih sedikit, yah, bisa didiskusikan lah. Tapi menurut gue sih, sama-sama krusial.
Satu lagi dari yang selalu ada, namun kadang diabaikan perannya, dan menjalani laga terasa berat ketika tidak ada sosoknya: Bukayo Saka.
Gue aware banget penilaian orang ke Saka gimana terutama di momen-momen jelang final Carabao Cup, tapi suka gak suka dia tetap pemain paling penting.
Meminjam data dari scoutlab.streamlit.app, kita coba lihat peran Saka dalam serangan yang tidak tertangkap dalam sekali nonton.
Soal finishing, memang trennya musim ini berkurang. Secara kasat mata juga terlihat lah, kualitas shooting-nya. Lalu di mana bagian yang penting dan membuat kehadirannya begitu berasa?
Saka kerap menyodorkan umpan matang yang berpeluang besar menjadi gol (Open Play xA tinggi), tetapi hampir setiap sentuhan dan pergerakannya—seperti menggiring bola atau umpan pendek—sangat efektif dalam membongkar pertahanan lawan (Offensive VAEP tinggi).
Sama sekali tidak maruk.
Singkatnya, setiap kali Saka menguasai bola di sepertiga akhir lapangan, peluang Arsenal untuk mencetak gol langsung meningkat, membuktikan perannya sebagai motor serangan utama.
Saka bukan tipe pemain yang hanya melakukan giringan aman di area sendiri. Ia sangat sering melakukan giringan produktif ke area lawan.
Dan yang ternyata tidak kita sadari, tingkat kesuksesannya dalam melewati bek lawan secara persentase lebih tinggi daripada yang diekspektasikan oleh model statistik. Rekannya bisa mempercayai bola padanya dan berekspektasi bahwa serangan akan ngalir.
Di aspek ini, work rate Saka juga gak malu-maluin dan di Arsenal memang sebagai penyerang sayap yang paling terbiasa dalam menempatkan diri di situasi tanpa bola.
Dengan angka “Recoveries” yang hitungannya banyak dibanding sesama penyerang di PL, ini juga salah satu faktor kita bisa dominasi area lawan ketika Saka ada di sana.
Dari sejak Saka balik dari cedera musim lalu, agak notice kalau dia mulai bergerak gak cuma dari kanan aja (Roaming).
Jadi udah cukup terbiasa buat liat Saka gerak ke tengah habis terima bola dari kanan, bahkan bisa melipir ke kiri, dan itu juga bisa beberapa kali jadi sumber peluang.
Lalu, yang paling penting. Saka adalah pemain yang bisa kita harapkan memecah kebuntuan. Udah banyak contohnya, tapi kalau mau dihitung dari 3 pertandingan terakhir PL saja yang Saka start, ia dua kali memberi kontribusi. Assist ke gol Viktor Gyokeres (Fulham) dan assist ke gol Kai Havertz (Burnley).
Gue tau saat ini kita melihat Saka sedang berjuang untuk balik ke performa terbaiknya dan nggak luput dari kritikan fans. Meskipun begitu, Saka tetap pemegang kunci serangan Arsenal.
Satu lagi yang gue happy lihatnya, assist Saka ke Gyokeres pada situasi gol pertama lawan Fulham. Di sini, gue melihat justru seorang Viktor Gyokeres yang berkembang.
Gue punya komplain soal Viktor Gyokeres.
Gue soroti kegagapan Gyokeres dalam mengendus posisi bagus buat terima umpan. Potongan klip ini lawan Wolves (H), Gyokeres telat untuk ambil posisi karena baru lari setelah melihat pergerakan bola.
Ini yang membedakan Gyokeres & Havertz (+ Merino). Havertz lebih fasih dalam membaca permainan, sehingga ada di tempat yang tepat untuk dioper bola.
Tapi di laga lawan Fulham kemarin, ada perbaikan.
Gol pertama Arsenal, Gyokeres menerima bola tap-in dari Saka dan mencetak gol ke-20-nya musim ini. Pergerakan Viktor Gyokeres yang bereaksi sebelum bola dioper yang membuatnya ada di tempat yang tepat untuk terima umpan.
Ketika Saka masih ancang-ancang menggocek Raul Jimenez, Gyokeres masih meraba-raba posisi untuk bersiap terima umpan. Bagusnya, Gyokeres nggak berdiri diam tapi ada gerakan geser tipis-tipis buat persiapan cari posisi sekaligus mengecoh marker.
Di detik-detik terakhir sebelum Gyokeres mencetak gol, ia mampu untuk melepaskan diri dan berdiri bebas. Ini disebabkan karena ia sudah sedari awal mencari posisi sebelum bola diumpan, makanya bisa menang timing.
Gyokeres improve di pergerakannya dalam mencari posisi, kawannya juga gak segan buat kasih bola ke dia. Hasilnya, Gyokeres menyentuh bola di kotak penalty lawan 6 kali (terbanyak) dan menembak 4 kali (terbanyak) di laga melawan Fulham itu.
Ada rasa harunya dikit, ketika Gyokeres yang sempat divonis nggak cocok main di Arsenal, bisa beradaptasi dan muncul dengan gol-gol penting.
That’s what I meant. Apresiasi mereka yang selalu ada. Yang memberikan segalanya hingga batas fisiknya, yang tetap menjadi kunci ketika tidak dalam keadaan prima, dan yang selalu berkembang untuk makin padu dengan tim.
“I’m very impressed because I know the difficulty of coming into this league and doing what he’s doing immediately... The variety of actions and involvements that he has in the game is exceptional. His defending metrics are incredible.”
Mikel Arteta on Martin Zubimendi
Chapter 4: Api yang Padam & Menyala Kembali
Semua pemain punya peran yang akan bergantian muncul. Tapi, bukan berarti boleh ada kesempatan tidak ada satu pun yang step up untuk memegang kendali. Jika itu terjadi, taruhannya adalah poin berharga di Premier League.
Yes, gue sedang mengacu ke pertandingan lawan Wolves (A) yang berakhir 2-2. Dalam periode 30 menit terakhir, seakan nggak ada yang bisa dinilai karena gue yakin karakter tim kita tidak seperti ini.
Let me elaborate.
Ada dua kejadian berbeda di malam yang sama, di stadion yang sama.
Yang pertama: dari menit ke-1 sampai 56 di laga Wolves vs Arsenal. Arsenal nunjukin salah satu performa yang cukup dominan. Kalau gak mau dibilang bagus, minimal sangat cukup untuk menang.
Menit 1-56:
Expected Goals (xG) *) 1,58 banding 0,07 punya Wolves
Deep box entries **) 8 lawan 1
Field tilt ***) 72,9% buat Arsenal
Build-up completion ****) 84,0%.
Menit 57-selesai:
Expected Goals (xG) *) 0,17 banding 0,18 punya Wolves
Deep box entries **) 2 lawan 2
Field tilt ***) 52,1% buat Arsenal. Jadi lebih imbang
Build-up completion ****) 75,0%.
(It was quite fine if this happens for like 5 minutes, not 30+ fucking minutes)
Rasanya susah buat dicerna, minimal kita pegang momentum di dua per tiga jalannya laga, tapi masih kecolongan dari tim yang baru menang sekali di Premier League.
Gak akan kebayang kalau lawan akan comeback. Sebapuk-bapuknya penurunan catatan statistik setelah gol kedua Arsenal, kecil kemungkinan untuk kemasukan 2 kali. Sesimpel kalau Raya teriak Gabriel buat gak nyundul bola liar, gak bakal ada gol penyama kedudukan.
*) Expected Goals (xG): Expected Goals (xG) adalah metrik probabilitas yang menilai seberapa besar kemungkinan sebuah tembakan menjadi gol berdasarkan kualitas dan situasi peluang tersebut.
**) Deep box entries: Deep box entries adalah jumlah keberhasilan sebuah tim dalam membawa atau mengumpan bola masuk ke area terdalam dan paling berbahaya di dalam kotak penalti lawan.
***) Field tilt: Field tilt adalah metrik yang mengukur dominasi teritorial suatu tim dengan menghitung persentase jumlah operan mereka di sepertiga akhir lapangan dibandingkan dengan lawannya.
****) Build-up completion: Build-up completion adalah persentase keberhasilan sebuah tim dalam memprogresikan aliran bola dari area pertahanan mereka sendiri ke area depan tanpa kehilangan penguasaan.
Lengkapnya gue tulis di link ini.
“We are frustrated because it’s down to us, and now we have to pick ourselves up... The performance in the second half, we didn’t show anything close to the standards required in this league to win. It’s a moment of disappointment... we have to blame ourselves.”
Mikel Arteta
Apakah momen lawan Wolves (A) itu saat terakhir pemain Arsenal pada off? Oh, tunggu sampai kita ketemu Bournemouth (H). Isu utamanya adalah tidak mampunya mengalirkan bola ke depan, dan kehilangan semua gelandang menyerang (Odegaard, Merino, Eze baru sembuh cedera). Sampai-sampai bola harus kembali ke Raya lebih dari 30 kali untuk mengulang build-up.
(Tapi, gue harus kasih tau ini juga ke lo: Di pertandingan itu, per FotMob, kita generate 5 big chances. 1 penalty Gyokeres, 4-nya dari corner. Gue jengkel banget gak ada yang bisa kita convert ketika di pertandingan itu harapan satu-satunya ya corner.)
Yang mau gue bahas bukan jalannya pertandingan, tapi respons tim setelahnya. Karena jujur aja, ini pukulan berat untuk title race. Arteta pun bahkan sempat ragu.
“For me the biggest question mark is when we lost against Bournemouth at home, how are we going to react, and then it’s throw the tactics boards away and think about something else.”
Mikel Arteta
Then, Eberechi Eze came.
Jadi gini ceritanya. Kalau habis kalah, respons Arteta terhadapnya selalu sama: latihan lebih keras lagi di lapangan. Tapi Eze, yang notabene salah satu rekrutan terbaru Arsenal, berani turun tangan buat ngurangin beban latihan tim.
Entah gimana caranya, Eze bilang ke Arteta: “We can do this, but we need a bit of space”
Apa yang terjadi? Arteta dengerin omongan Eze.
Days off nambah, intensitas latihan diturunin, dan di minggu sebelum mereka ketemu Burnley, Arteta kasih skuadnya libur tiga hari plus acara BBQ bareng.
Gue gak tau gimana cara Eze ngomong ke Arteta, gimana lo sebagai anggota tim bisa punya pandangan yang bold, yang berbeda, ke bos lo yang lagi pening karena timnya lagi kesulitan, dan gimana Arteta sebagai bos juga mendengarkan apa yang dibilang Eze.
Yang gue liat, Eze ini adalah warna baru di Arsenal. At least, itu yang gue lihat di lapangan. Dia nggak ambil pusing buat banyak-banyak pegang bola, bahkan sebagai gelandang kreatif bukan jadi yang terbanyak bikin peluang. Tapi ketika lo meleng, dia udah dribble lengket ngelewatin 2-3 lawan atau kasih tembakan dari tempat yang nggak lo sangka-sangka.
Eze itu unik, lo nggak bisa menempatkannya di posisi yang fix. Selama ia dikelilingi oleh pemain yang satu ritme dengan gaya mainnya. Misalnya tau harus lari ke mana ketika Eze mau kasih umpan, atau harus gerak ke mana supaya Eze dapat ruang tembak, di situ lah performa terbaik Eze akan keluar.
Di tim yang penuh dengan ‘soldiers’ yang rela mati di lapangan, Eze seakan bilang “Nah, let me just play football” - Sangat pure, dan berbeda dari yang lain. Dan itu diakomodasi oleh Arteta.
Dalam konteks sports team, konsep ini sering disebut “temperature checker” — pemain yang punya kepekaan buat ngerem atau ngasih perspektif berbeda waktu tim lagi di situasi autopilot. Bukan troublemaker, tapi seseorang yang cukup percaya diri dan cukup dipercaya buat ngomong hal yang nggak mau diomongin orang lain.
Yang bikin Eze efektif bukan cuma karena dia beda, tapi karena tiga hal: dia punya kredibilitas (performa di lapangan), niatnya jelas buat kebaikan tim, dan dia ngomong di waktu yang tepat.
Lo bisa melihat bedanya di pertandingan lawan City di Etihad. Kita kalah 2-1, namun tim terlihat sudah kembali di energi yang seharusnya, sehingga bisa berlanjut lawan Newcastle (di mana Eze mencetak gol penentu!), Fulham, West Ham, dan Burnley.
Thank you for speaking up, Ebs. Untuk alasan itu lah, sepertinya Eberechi Eze adalah Signing of the Season versi gue, hehehe.
Menjadi air yang menyeimbangkan kepala yang panas, dan bisa menjadi katalis untuk membuat keputusan yang lebih matang.
Nyala api itu diseimbangkan dengan aliran air yang membuat segalanya terus mengalir. Bahkan, di momen-momen kunci, kita bisa melihat ketenangan itu hadir.
Kali ini gue mau cerita tentang Martin Ødegaard. Tepatnya di momen lawan West Ham.
Lo inget kan kita sempet kebobolan dan kedudukan jadi 1-1? Sesaat setelah “gol” Callum Wilson (yang akan dianulir itu) terjadi, Ødegaard mengendalikan situasi dan jadi orang pertama yang ngomong ke wasit.
Apakah yang dilakukan Ødegaard ngaruh sehingga wasit mau cek VAR? Ya, tidak, bisa jadi.
Tapi yang gue liat, Ødegaard mampu mengendalikan situasi chaos yang mungkin bisa berujung kartu yang gak perlu, dan melakukan tujuan utama, yaitu komunikasi dengan wasit.
Lo harus inget panasnya situasi saat itu. Menit akhir, title race, degradasi, situasi yang benar-benar menentukan nasib kedua tim. Ødegaard bisa kontrol diri dan gak bikin situasi makin keruh.
Buat gue, Ødegaard menunjukkan Emotional Intelligence di sini. Nggak terbawa oleh panasnya suasana, tetap bisa menempatkan diri dan memikirkan langkah yang paling tepat untuk tujuan yang jelas. Yaitu komunikasi sama wasit, minta dia cek VAR. Inilah awal dari “After Review” yang bersejarah itu.
Rangkaian kejadian ini bikin gue berefleksi, nggak semua masalah selesai dengan mengeraskan suara, bekerja banting tulang, dan lain sebagainya. Ada juga momen-momen di mana kepala yang panas harus kita seimbangkan dengan jeda, dengan pikiran yang matang, agar tubuh bisa kembali bekerjasama dengan pikiran dan mencapai tujuan yang kita inginkan.
“It is not about calming. It is about continuing to do what we are doing really well and try to evolve every single day to be better. So, from their side, it is continuing to do what they do in the stadium; create more energy, more positiveness around the games.”
Mikel Arteta
Chapter 5: The Foundation
Dengan kompetisi yang panjang, level energi yang sangat demanding, dan pemain yang silih berganti memberi kontribusi, tentu sangat dibutuhkan core yang kuat sehingga dalam level permainan yang paling standar, kita masih bisa meraih poin maksimal.
Bagaimana caranya mendapatkan core yang kuat itu?
Lo mesti nonton video ini buat referensi. Dari James Allcott & Jon MacKenzie
Kira-kira begini intisarinya:
Jadi waktu akhir musim 2022–23, kita kalah dari City 4-1, momen itu jadi titik balik buat Arteta. Arteta mutusin musim depan Arsenal harus punya pemain yang nggak bisa dibully secara fisik. Makanya mereka beli Declan Rice, Kai Havertz, dan Timber — emang sengaja cari profil pemain yang lebih dominan fisiknya.
Arteta tetep pengen kontrol permainan kayak biasa, tapi karena udah nggak punya banyak pemain teknikal yang jago main di ruang sempit, otomatis cara build-up Arsenal berubah.
Arsenal jadi jauh kurang tajam lewat tengah, tapi jauh lebih terkontrol, nggak gampang kehilangan bola. Konsekuensinya, expected goals mereka dari open play turun, tapi, set piece kita difokuskan, dan bener-bener jadi bahaya banget.
Prinsipnya, kita menanggalkan area tengah, fokus membangun serangan di sayap.
Ketika bola sampai depan, pilihannya antara bola sampai ke kotak penalty, atau diblock lawan dan jadi set-piece. Namun, ketika bola terebut, Arsenal punya waktu untuk regroup pemain ke belakang karena lawan juga ikut terbawa menyerang dari sayap.
Fondasinya tetep filosofi ala Pep — build-up dari belakang, kontrol possession, bawa bola ke depan secara sistematis — tapi ada adaptasi: Arsenal rela sedikit kurang berbahaya di open play, main build-up dari sayap, dan jadi tim yang lebih pragmatis.
“I thought, can we score a hundred goals today with the resources that we have, the players that have been out, or the manner that we are performing? The answer is no. Can somebody score 35 goals? No. So how are we going to win 40-odd games to achieve what we want? And that’s it. What is our biggest strength? This one. Okay, we need to be the best in the world at doing this.”
Mikel Arteta
Pragmatisme Arteta bukan tanpa sebab. Selama kariernya dari sebagai pemain, ia terus berusaha untuk bangkit ke titik yang lebih tinggi lagi, dan itu berarti melakukan segalanya.
Arteta mengembara keliling Eropa setelah merasa tidak bisa meneruskan kariernya di tim Barcelona senior. Lalu berlabuh di Inggris bersama Everton, dan tidak melewatkan kesempatan untuk bergabung dengan Arsenal ketika Wenger menghubunginya. Gue rasa, sedikit banyak pragmatisme Arteta tumbuh dari pengalaman yang panjang di tanah Inggris. Taking chances, dengan segala cara. Itu adalah muara dari sikap pragmatis.
“And I make sure that the boys understand: this is our biggest strength, and if we do that, the probability of winning the game is gonna be so high.”
Mikel Arteta
Jadi, sejak awal memang model permainan Arsenal didesain untuk tidak kecolongan peluang dari lawan. Bahkan mindset itu ada bukan hanya ketika bertahan, namun dari awal pegang bola. Area membangun serangan juga harus sekaligus cara agar nggak gampang diserang balik.
Hasilnya, ya sesuai. Grafis dari The Athletic ini mengisyaratkan strategi pragmatis Arteta. Fokus di sayap dan menangkal peluang lawan.
Siapa yang menjadi jantung dari sterilnya gawang Arsenal? William Saliba, for me.
Jadi gini, kita sempat di periode kehilangan Saliba. Ada 4 pertandingan di mana Saliba gak bisa main karena cedera. Chelsea, Brentford, Villa, Club Brugge. Di saat itu, pemain lain seperti Mosquera, Timber, dan bahkan Norgaard silih berganti cover posisi itu.
Secara individu, mereka adalah defender yang oke. Namun, gue rasa saat ini ada hal-hal yang kayaknya kalo gak Saliba yang kerjain, gak bakal lancar.
Contoh: Cara bertahan yang bikin xG lawan kering, terus gimana dia bisa bikin tim lebih pede bertahan di garis pertahanan tinggi dan timing-timing kapan ia ikut bantu penyerangan.
xG lawan jadi kering karena cara bertahan Saliba. Karena cara bertahan yang khas Saliba seperti pada gambar, di Premier League, gak jarang lawan kita cuma dapat xG 0.3 ke bawah, indikasi kalau lawan susah banget dapet peluang golin.
Waktu Saliba absen, kita kecolongan lebih banyak shot on target.
Adanya Saliba juga bikin tim lebih pede buat pressing lebih tinggi. Gue ada feeling kalau rekan-rekan yang di depannya - midfielder dan forward - jadi lebih pede untuk pressing lebih rapat karena tau di belakang ada Saliba (atau Gabriel) yang bisa urus sisanya kalau ada apa-apa.
And that’s how you prevent your opponent to break through you.
Jika, somehow, lawan berhasil nge-hack sistem ini dan menciptakan peluang ke gawang kita, mereka akan bertemu David Raya.
Kita yang sering nonton sih pasti udah tau ya refleksnya David Raya memang ajaib. Tapi tiap muncul tetap aja bikin kagum. Gue akan kasih contoh ketika kita ketemu Chelsea (H).
Pas gue nonton lagi, amazed sama footwork Raya. Kita fokus di refleks Raya yang bisa-bisanya paling duluan ngikutin arah bola, padahal lagi di situasi dalam kepungan. Kuncinya adalah: Proaktif. Udah feeling harus mulai loncat dari posisi apa, dan bergerak kapan dan ke arah mana.
Pandangan mata dan body language Raya cepat untuk membaca arah bola.
Mengapa Raya kuat menahan crossing atau corner? Ketika yang lain masih ngira-ngira arah bola, Raya udah dapet bayangan harus ke mana dan ngapain, lalu jadi yang pertama sampai di jalur bola itu akan melintas.
Contohnya ketika dikepung banyak pemain waktu corner lawan Man United di Old Trafford.
Raya itu tingginya 183 cm. Badannya gak terlalu besar. Gerakannya akan cenderung lebih lincah. Kalau dilihat-lihat lagi, save-save Raya yang ajaib atau skill-nya dalam menghalau crossing beberapa kali didapat dari footwork yang gak kalah dengan pemain outfield. Karena gak terlalu tinggi jadi lebih gesit? Asumsi aja ini ya....Mungkin jadi kiper berbadan kecil ada untungnya.
Yang jelas, Raya is clutch in his own way.
David Raya bisa mengubah momentum. Mau diserang terus, kalau kiper gacor, ya kelar. Peran itulah yang diemban David Raya. Iya kan? Coba tanya Mateus Fernandes…
Tim kita ini solid sebagai defensive unit tapi individunya juga gak kalah garang. Gabriel yang sering menjadi tembok terakhir dengan block-nya yang khas. Timber is Timber. Calafiori yang makin fasih dalam bertahan, selain main di posisi yang terserah kita. Hincapie, the naked warrior. Mosquera yang bukan hanya kuat bertahan namun pandai menyerap tuntutan taktikal hingga bisa melapis Saliba, Gabriel, dan Timber sekaligus.
Well, lo mau gue sebut siapa lagi? Declan Rice? Nanti artikelnya gak habis-habis. Panjang banget kalo mau dibahas mah. Bisa jadi satu artikel baru, wkwk.
Tapi yang jelas, semua ini nggak akan terjadi kalau Declan Rice nggak total memberikan yang terbaik setiap match.
“I was so convinced that he was going to be the lighthouse of this football club because he’s got that power. I said, if you are able to put yourself in the benefit of the team, I think the team is going to make you the biggest player in this club and it will happen in that order.
“But you have to believe that you can do that. And he’s been phenomenal. He’s been an inspiration for all the boys. A player with that level of consistency for that many games, it’s just something remarkable.
“We are here because of players like him, that’s for sure.”
Mikel Arteta on Declan Rice
The backbone of this team.
Chapter 6: Champions of Life
Di tengah emotional rollercoaster, di tengah naik turunnya performa, di tengah badai cedera, di tengah bisingnya suara sumbang dari luar tim… Arsenal tetap tegar.
Gue udah menguraikan ups-and-downs dari perjalanan kita, segala yang kurang dan tidak sempurna, yang membuat gue terus membayangkan. “Ini kalau skuad 100% ready terus tanpa cedera, bakal jadi apa?“
Tapi seperti halnya menjalani kehidupan, kadang kita harus maju terus dan tabrak tantangan di depan kita dengan apa yang kita punya. Walaupun kondisinya gak ideal, tetap somehow harus berhasil. Arsenal pun gue rasa seperti itu.
They delivered.
Champions of life.
Untuk menutup artikel ini, gue cuma mau mengutip speech Arteta pada team meeting pertama setelah kita dipastikan dapat gelar.
“This is all great, guys, and this is what we have achieved. But when you achieve something, is very important — I think, and this is a lesson — is to understand how you’ve done it. And for me, if I have to write it behind this: the manner and the people. This is what I will do.
I think in the manner, with the values that you’ve shown, with the personality that you’ve shown, with the courage that you’ve shown in all this journey, in all this process — to fail, to don’t be ashamed, to keep working, to stay humble, to stay curious, to try for innovation, to try to improve yourself, to be vulnerable — something very important in life.
You have sent a message to sport, to football, to a lot of people, of how you win and how you deserve to win something. And why you’ve done all of this? Because it’s in your heart, it’s in your soul, it’s in your values. It’s amazing.”
Mikel Arteta
We are the champions of Premier League 2025/26.
Let’s go!
Come.
On.
You.
Gunners!





































