Kritik
Weโre in this together. Makanya semua harus telan kritik.
Arsenal tahu cara untuk menang di laga-laga krusial. Sudah beberapa kali diperlihatkan di paruh awal musim ini. Makanya, setiap batu sandungan terasa sangat menjengkelkan.
Kita akan buka dari match pertama di bulan puasa. Molineux. Wolves vs Arsenal, 2-2.
Ada dua kejadian berbeda di malam yang sama, di stadion yang sama.
Yang pertama: dari menit ke-1 sampai 56 di laga Wolves vs Arsenal. Arsenal nunjukin salah satu performa yang cukup dominan. Kalau gak mau dibilang bagus, minimal sangat cukup untuk menang.
Coba gue lampirkan angka dari markstats.club pada gambar ini:
Menit 1-56:
Expected Goals (xG) *) 1,58 banding 0,07 punya Wolves
Deep box entries **) 8 lawan 1
Field tilt ***) 72,9% buat Arsenal
Build-up completion ****) 84,0%.
Dilihat dari sisi mana pun, Arsenal punya hak untuk menang telak.
Menit 57-selesai:
Expected Goals (xG) *) 0,17 banding 0,18 punya Wolves
Deep box entries **) 2 lawan 2
Field tilt ***) 52,1% buat Arsenal. Jadi lebih imbang
Build-up completion ****) 75,0%.
(It was quite fine if this happens for like 5 minutes, not 30+ fucking minutes)
Rasanya susah buat dicerna, minimal kita pegang momentum di dua per tiga jalannya laga, tapi masih kecolongan dari tim yang baru menang sekali di Premier League.
"We are frustrated because it's down to us, and now we have to pick ourselves up... The performance in the second half, we didn't show anything close to the standards required in this league to win. It's a moment of disappointment... we have to blame ourselves."
MIKEL ARTETA
Gak akan kebayang kalau lawan akan comeback. Sebapuk-bapuknya penurunan catatan statistik setelah gol kedua Arsenal, kecil kemungkinan untuk kemasukan 2 kali. Sesimpel kalau Raya teriak Gabriel buat gak nyundul bola liar, gak bakal ada gol penyama kedudukan.
Namun, jika melihat apa yang terjadi di menit 57-akhir, sampai-sampai ada situasi kemelut di menit akhir di mana Raya miskom dengan Gabriel, itu bukan sesuatu yang random jika kita nonton Arsenal match by match.
Ada pola yang memang berulang, yang membuat jalan kita terhadang, yang gue harap bisa diperbaiki sembari kita tetap menang. Wishful thinking from my sideโฆ
Tapi apa pun itu, gue menyusun tulisan ini untuk mengulik kira-kira apa yang menjadi biang kerok tersandungnya Arsenal di laga-laga terakhir kita di Premier League, kemudian mencari tahu apakah solusinya bisa didapatkan dari apa yang kita punya saat ini.
*) Expected Goals (xG): Expected Goals (xG) adalah metrik probabilitas yang menilai seberapa besar kemungkinan sebuah tembakan menjadi gol berdasarkan kualitas dan situasi peluang tersebut.
**) Deep box entries: Deep box entries adalah jumlah keberhasilan sebuah tim dalam membawa atau mengumpan bola masuk ke area terdalam dan paling berbahaya di dalam kotak penalti lawan.
***) Field tilt: Field tilt adalah metrik yang mengukur dominasi teritorial suatu tim dengan menghitung persentase jumlah operan mereka di sepertiga akhir lapangan dibandingkan dengan lawannya.
****) Build-up completion: Build-up completion adalah persentase keberhasilan sebuah tim dalam memprogresikan aliran bola dari area pertahanan mereka sendiri ke area depan tanpa kehilangan penguasaan.
Tiga Batu Sandungan
Kalau lagi nonton pertandingan live atau replay, gue punya kebiasaan buat mencatat apa yang mengusik pikiran. Entah itu mau ditulis atau disimpan sendiri, tergantung mood aja. Kali ini, mood gue adalah numpahin semua yang mengusik pikiran.
1) David Raya dan long ball yang terus-menerus
Ada satu hal yang cukup ganggu di pertandingan lawan Wolves lalu. Raya banyak launch bola jauh ketika di depan penerimanya adalah Gabriel Jesus dan Trossard, dan sebelumnya ada Gyokeres. Di mana ketiganya bukan opsi utama buat menang duel udara.
Ini juga kita lihat ketika match lawan Brentford. Gue mencatat momen-momen David Raya memilih untuk melepas bola langsung ke depan ketika ada opsi untuk mengoper pendek dan membangun serangan dengan lebih santai.
Menit 80-an, ada momen di mana Raya memilih untuk long ball (dan tidak akurat) di saat Rice maupun Odegaard tidak dijaga ketat oleh Jordan Henderson yang masuk sebagai pemain pengganti. Niat untuk bermain direct tidak efektif. Jadinya harus bertahan lagi dari serbuan lawan.
Apa kesamaan dari situasi kedua match tersebut? Kita mencoba untuk menaikkan tempo serangan dengan mengirim bola langsung ke depan, bypass pressing lawan. Terutama saat lawan Brentford di mana situasi yang gue tandai adalah di keadaan imbang 1-1.
Mungkin David Raya ada rasa tanggung jawab untuk membuat tempo serangan lebih cepat dan intensโฆ Namun tanggung jawab itu akan lebih baik jika dibagi ke seluruh tim. Raya harus sabar.
Namun, ke-โtidak sabarโ-an Raya ini bukan semata karena kesalahannya sendiri. Mungkin poin ke-2 dan ke-3 yang mau gue share ini akan menjawab mengapa Raya begitu terburu-buru melepas bola jauh.
2) Pemilihan Starter dan Finisher
Oke sebelum kita masuk ke bahasan starter & finisher, kita sepakati dulu kalau long ball David Raya itu gak selalu jelek, tapi gak akan bekerja dengan baik jika penggunaannya out of context.
Strategi long ball akan berjalan dengan baik jikalau dilakukan dengan konteks yang sesuai dan personel yang tepat.
Waktu laga Arsenal vs. Inter di UCL, umpan-umpan panjangnya Raya bener-bener mematikan banget efeknya. Mikel Merino, yang posturnya tinggi dan jago duel udara, jadi target utama untuk menerima bola. Di belakangnya, para gelandang Arsenal udah ngambil posisi di mana mereka bisa ngeliat arah bola dan pemain lawan yang mau menjaga mereka secara bersamaan, bikin lawan jadi kalah langkah. Arsenal berhasil menangkan bola liar (loose ball), langsung nge-press saat itu juga, dan tancap gas nyerang ke depan.

Jadi, apa poin dari bahasan long ball barusan? Strategi akan berjalan dengan lancar dengan pemilihan personel yang tepat sesuai profilnya (Aye, captain obvious!), juga balance antar satu sama lain.
Waktu Nottingham Forest 0-0 Arsenal, Forest sit deep dan membiarkan Arsenal yang pusing cari jalan keluar. Ini emang khasnya gaya main tim asuhan Sean Dyche. Mereka nahan serangan, bertahan, dan nunggu satu aja kesalahan musuh.
Buat ngebongkar pertahanan mereka, kamu butuh pemain yang bisa dribble di ruang sempit dan/atau mancing bek keluar dari posisinya. Pemain yang bisa maksa formasi lawan berantakan dan buka celah.
Sisi kiri Arsenal hari itu diisi sama Rice yang tidak jadi gelandang bertahan murni, namun maju di ruang antarlini, Martinelli yang terus-terusan nabrak tembok pertahanan lawan yang udah rapet, dan Timber harus main pake kaki yang nggak natural buat posisinya di bek kiri, nyoba buat invert ke tengah. Nggak ada yang cocok buat ngacak-ngacak block lawan. Nggak ada juga yang ngirim bola matang dari kiri. Nggak ada yang ngasih umpan-umpan terobosan buat ngebongkar pertahanan 10 orang di belakang bola. Babak pertama beres tanpa ada satu pun shot on target.
Kalau mau dijelaskan secara singkat, โsegitigaโ di sisi kiri ini gak berjalan dengan baik. Mungkin cukup untuk memenangkan pertandingan jika ada kesempatan lain, tapi akan ada banyak catatan untuk evaluasi ke depan.
Untuk tim yang bermain memanfaatkan sayap dan kelebaran seperti Arsenal, memanfaatkan kombinasi tiga pemain adalah kunci untuk membongkar pertahanan lawan yang rapat. Billy Carpenter dalam newsletter-nya mengistilahkan tiga pemain ini sebagai Orchestrator, Dribbler, dan Runner. Perhatikan ini karena gue akan referensikan terus istilah ini.
Kalau tiga profil ini tersedia, bek bakal ngadepin situasi yang sulit, semisal:
Dribbler yang jago 1 on 1 membuat situasi chaos di bek sayap
Runner yang mencari celah di antara bek tengah dan bek sayap akan berlari ke kotak penalty begitu celah terbuka
Orchestrator yang tau timing kapan dia harus oper bola ke siapa
Dan pemain itu gak harus menjalankan satu profil terus-terusan sepanjang 1 match. Bisa jadi bertukar peran sesuai jalannya pertandingan.
Tapi kalau profil penyerang nggak komplit, misal isinya runner semua, atau orchestrator semua, serangannya jadi gampang ketebak. Jika semua bertipe runner (Contoh: Memainkan Martinelli di sebelah Gyokeres), akan ada dua pemain yang lebih fokus cari ruang alih-alih pegang bola. Jika lawan pasang low block, apa cocok?
Perbedaan profil antarpemain di posisi yang berbeda juga penting di lini depan.
Pas lawan Wolves, tim yang baru menang sekali doang sepanjang musim dan main pake defensive shape paling dalem di liga, Arteta menurunkan tiga runner untuk mengisi lini depan. Gyokeres, Madueke, Martinelli. Bisa cocok ketemu tim yang main jual-beli serangan a la Bournemouth. Tapi ketemu Wolves yang udah siap bertahan rapat? Bakal susah mencari ruang buat mereka bertiga.
Pemilihan starter yang gak pas dengan profil pemain dan laga yang dimainkan juga akan merembet ke pemilihan pemain pengganti (Call it finisher, if you will). Contohnya yang dekat-dekat aja pada saat lawan Wolves. Ketika sudah cukup clear bahwa Wolves bertahan rapat, mungkin gue gak akan pick Gyokeres-Madueke-Martinelli. Salah satu dari Jesus atau Trossard akan gue pasang untuk menggantikan Martinelli.
Lalu, ketika situasi sedang di 2-1 dan Wolves agak open up untuk mengejar skor, kita malah memasukkan Jesus dan Trossard. Padahal, kalau kita masukkan Gyokeres dan Martinelli, daya gedor kita akan lebih efektif melawan tim yang lebih terbuka.
Ini cuma ilustrasi aja. Mungkin jangan terlalu terpaku sama 3 tipe Orchestrator, Runner, dan Dribbler barusan. Sederhananya adalah, memasang tipe-tipe pemain yang terlalu mirip gaya mainnya secara berdekatan malah bikin chemistry antarpemain gak kebangun.
Sebenarnya, tim pelatih pasti tau kan, ya, yang begini-begini? Gue rasa memang pemilihan starting XI untuk tiap pertandingan gak cuma sekadar cocok-cocokan profil dan formasi aja. Kalau hipotesis gue sih ada 3 hal:
Sesimpel siapa yang lebih fit dan siap main, maka dia akan main. Terlebih dengan cedera yang ada aja
Yang form-nya lagi oke baik tanding atau latihan akan dikasih reward untuk main terus
Bisa jadi ada blessing in disguise di balik taktik yang gak terlihat cocok. Kalau misalnya kita pressing tinggi dan berhasil rebut bola, ada 3 runner yang siap eksploitasi ruang yang kosong. Walau ini gak bisa jadi patokan utama sihโฆ
Situasi gak selalu ideal, tapi at the very least gue tetap berharap kita gak mainin 3 profil penyerang yang mirip sekaligus untuk starting XI. Atau pendeknya, jangan pasang Martinelli - Gyokeres - Madueke sebagai starterโฆ
3) Basic. Teknik!
Kejengkelan gue terhadap terplesetnya Arsenal bersumber dari satu hal simpel: Kontrol permainan - yang bermula dari teknik handle bola yang sloppy dan chemistry yang gak jalan, seakan-akan hasil latihan menguap begitu aja di situasi genting.
Aslinya, Arsenal punya tools buat thriving di berbagai situasi. Gue akan contohkan dua kejadian:
a) โMuter-muterโ dengan tujuan
Bermain aman, melakukan backpass, dan mengontrol bola di area sendiri itu sah-sah aja dan bahkan gue encourage. Asalkan: a) jelas tujuannya, apa yang harus terjadi supaya bola ujung-ujungnya sampai depan, dan b) para pemegang bola bisa memastikan mereka menggunakan teknik yang pas supaya gak kehilangan bola saat proses tersebut.
Video oleh Jon McKenzie dari The Athletic menegaskan poin tersebut.
Taktik Arsenal buat ngebongkar low block tuh aslinya kuncinya di sabar sama mancing pressing lawan, bukan asal main โdirectโ dan bola langsung dikasih ke depan tanpa pertimbangan yang matang. Insting pemain pasti mau bola sedekat mungkin ke gawang lawan secepat-cepatnya. Insting penonton juga sama.
Tapi Arsenal dalam versi terbaiknya nahan banget insting itu. Mereka nggak maksa ngirim bola ke lini belakang padat di mana bek-bek lawan yang physical akan menunggu. Nggak perlu juga nyuruh tiga penyerang lari barengan ke space sempitโฆ Dan hoping for the best.
Yang Arsenal butuhkan, pergerakan yang kelihatannya basic tapi butuh intelegensi: sabar, pinter mancing lawan, dan rela recycle bola ke belakang dulu sebelum ngegas ke depan.
Nah, trigger utamanya tuh dari sirkulasi bola ke belakang yang emang disengaja. Bukan possession yang meaningless alias muter-muter FC. Tapi murni pancingan.
Bola di-pass balik ke pemain yang posisinya lebih deep, tujuannya spesifik: mancing satu pemain lawan buat step up dan nge-press. Momen pas pemain itu kepancing majuโฆ Thatโs exactly what Arsenal wants.
Pas satu lawan keluar dari formasi pressing, shape di belakangnya otomatis berantakan. Bakalan ada gap kebuka, biar kata kecil dan cuma sekian detik, di antara pressing line sama midfield line di belakangnya.
Low-block yang tadinya solid, sekarang bolong.
Godaan di sistem ini adalah buat go long, nge-bypass midfield dan ngirim bola ke flank buat dikejar Madueke atau Gyรถkeres. Itu kayaknya cepet ya. Tapi kalau gitu, bola malah jatuh ke bek-bek tengah Forest yang gede-gede, yang akan lebih OP menangin duel udara dibanding Arsenal.
Makanya, Arsenal mulai pake back pass. Gabriel ngasih ke Zubimendi. Zubimendi pantulin ke Mosquera. Sekilas ini cuma muter-muter doang.
Little did they know, itโs a trap.
Back pass ke Mosquera itu pure umpan pancingan. Ngundang pemain Forest buat maju nge-press, soalnya Mosquera posisinya di belakang, bola mundur, dan insting pemain yang pressing ini pasti pengen langsung rebut bola. Begitu pemain Forest ini kejar Mosquera, maju dua-tiga langkah dari defensive line, shape di belakang dia langsung ancur. Dia nggak bisa balik mundur biar rapi.
Gap antara lini press Forest sama lini tengah kebuka, dan kesempatannya cuma beberapa detik. Di sini decision making sangat krusial. Mosquera ngasih ke Zubimendi, Zubimendi langsung main wall pass (pantulan) sama รdegaardโone-two kilat yang nge-bypass orang yang nge-press tadi dan bawa bola pas di zona yang udah diganggu. Zubimendi terima bola terus giring ke space kosong itu.
Tiga pelari Arsenal udah siap-siap di depan, ngebaca permainan dan timing lari pas dengan pergerakan Zubimendi. 28 detik build-up yang sabar bisa berujung potensi peluang yang berbahaya.
Rahasia di balik pola ini: Duo center-back nggak berdiri sejajar. Satu agak step up, satunya nge-drop lebih dalem. Ini ada fungsinya: narik striker lawan biar turun lebih dalem dari yang seharusnya, ngacak-ngacak struktur pressing lawan.
Kalau ini berhasil, bakal kelihatan seperti skema counter-attack murni, tiba-tiba ada transisi cepet ke depan, runners di mana-mana, bawa bola ke open space, tapi aslinya ini 100% build-up. Chaos-nya itu by design. Arsenal membuat kondisi buat counter-attack tanpa perlu kehilangan bola dulu. Ini juga akan mengakomodasi pemain-pemain baru kita seperti Gyokeres maupun Madueke.
Tapi, celah dari sistem ini ya kesabaran itu sendiri.
Pas sabarnya ilang, mungkin karena pressure pertandingan mulai bikin lupa sama taktik, atau pas gatel pengen kirim bola langsung atau direct, semua setup-nya collapse. Ada opsi untuk main wall-pass untuk melewati pressing pertama lawan, tapi opsi itu gak dipilih (Tadi gue udah bahas di long ball Raya).
Ujung-ujungnya, pertahanan lawan nggak ke-disturb sama sekali, udah siap dan gampang aja buat nahan serangan kita, dan ujung-ujungnya malah kena serangan balik. Pengen main cepat, tapi malah backfired.
b) Cara menembus mid-block
Ada satu tipe lawan yang sukses bikin Arsenal pusing tujuh keliling. Tim yang masang midfield dominan secara fisik. Tim yang naruh tiga atau empat raksasa agresif yang pinter bertahan buat menuh-menuhin area tengah. Contoh paling valid? Newcastle. Mereka punya Bruno Guimarรฃes sebagai jangkar, di-back up sama fisik badak macam Joelinton dan Tonali. Lini tengah jadi tembok yang nggak bisa ditembus Arsenal, karena badan mereka lebih gede, lebih kuat, dan emang dipasang spesifik buat menangin duel fisik kalau Arsenal maksa nyerang dari tengah.
Gue pernah bahas di channel YouTube gue (Iya, ada, tapi gak pernah diisi. Haha):
Kalau Arsenal udah ketemu setup kayak gini, pattern-nya akan ketebak. Serangan dari tengah macet total. Bola nyampe di sepertiga akhir lawan, tapi nabrak pertahanan yang nggak bisa diakalin cuma pake skill passing. Ujung-ujungnya, jalan buntu ini bikin Arsenal bawa bola ke sayap, yang artinya bola bakal disetor ke Bukayo Saka.
Awalnya sih works, secara Saka emang bisa diharapkan untuk โcreate magicโ sendirian. Tapi ngasih beban segede itu ke satu orang doang jelas nggak sustainable. Jika nggak sustainable, Arsenal kehabisan ide, dan sisa harapannya tinggal set piece. Kalau tendangan sudut udah jadi sumber utama ancaman gol, itu tanda betapa mampetnya skema open play mereka.
Solusinya, jadikan area sayap justru jadi tempat titik awal ngacak-ngacak formasi, bukan dia yang eksekusi. Mekanismenya gini: Daripada Saka maksa duel 1 lawan 1, dia mending ngasih bola ke fullback, dalam hal ini, Timber. Terus, Timber ngelakuin driving run alias lari bawa bola nusuk ke ruang kosong antara bek sayap dan bek tengah (half-space).
Ini bukan mau fisik. Timber nggak nyoba nabrak orang. Dia akan eksploitasi celah posisi yang kebuka pas pemain lawan kepancing nge-press atau nge-track pergerakan Timber dan Saka. Lari si Timber ini yang jadi alat pengacau utamanya.
Efek tusukan Timber ke gelandang tengah lawan tuh fatal banget. Ada satu pemain tambahan yang ternyata sanggup menyerang. Gelandang-gelandang badak yang tadinya sukses nutup rapat Arsenal, pas ada satu aja yang kepaksa gerakโbuat ngejar Timber, mikir mau nge-press atau stay, atau keluar dari barisanโformasi mereka langsung berantakan.
Gelandang lain harus ikut rotasi nutupin ruang. Jarak antar pemain jadi renggang. Satu dynamic run ke zona yang pas udah cukup buat bikin seluruh struktur mereka kocar-kacir.
Di momen inilah tugas pemain sayap berubah drastis. Daripada cuma stay di touchline nungguin bola, Saka, Trossard, (dan Calafiori) akan invert dan menuhin kotak penalti. Ketiganya gerak barengan nusuk ke tengah, masuk ke box, ninggalin area sayap yang harusnya dijagain sama lawan.
Efek dari pergerakan ini bikin bek lawan seakan krisis identitas. Bek yang ditugasin man-mark Saka pasti ngira Saka bakal stay wide. Pas Saka masuk ke tengah, si bek harus milih: ngikutin Saka dan ninggalin posnya, atau stay di posnya tapi ngelepasin Saka.
Bayangin ada tiga pemain yang ngelakuin pergerakan begini barengan, berarti ada tiga bek yang harus bikin keputusan susah di detik yang sama. Ditambah formasi mereka udah diacak-acak Timber duluan, pertahanan lawan jadi chaos.
Dari chaos yang terkoordinasi ini, muncullah space. Gara-gara winger narik bek ke pinggir kotak, terus gelandang lawan kepancing keluar gara-gara lari tusukan, area tengah yang tadinya padat tiba-tiba kosong.
Dan yang paling nyayur dari situasi ini adalah si Zubimendi yang tiba-tiba aja dapet ruang bebas tanpa pengawalan. Dari posisi itu, dia dapat ruang dan waktu yang cukup untuk kasih umpan manja ke depan siapa pun yang udah siap finishing di dalem kotak penalty. Kebayang kan, distributor bola paling jago di lapangan tiba-tiba dikasih waktu dan ruang sebebas itu, padahal tadinya taktik lawan dirancang khusus buat matiin pergerakan dia.
Kesimpulannya emang kelihatan simple, tapi ini jadi nambah dinamika serangan Arsenal. Sayap itu bukan tujuannya. Sayap itu kuncinya.
Kembali lagi, di sini kuncinya adalah timing dan chemistry. Bukan sekadar hafalan, โOh, gue ada di area ini, terus beginiโ. Gue gak masalah kalau terkadang full-back kita isi area half-space. Hanya saja, jika kita main tek-tokan dan berharap itu berhasil hanya karena kita taro fullback di area lawan, jadi agak melenceng.
Ketika kita kasih bola ke full-back dan berharap dia akan mengeksekusi serangan, ya berat. Di contoh yang gue kasih liat, tugas Timber memang sulit, tapi sederhana. Bawa bola ke celah yang kosong dan keep, jangan sampai lepas, lalu berikan ke pemain yang kosong. Jadi, ada tujuan, dan ada teknik yang harus diaplikasikan supaya bola tidak lepas.
Gue agak sulit menjelaskannya, tapi akhir-akhir ini rasanya kita kasih bola ke fullback itu โJust becauseโ. Jadi selama full-back terima bola di half-space seperti merasa udah menjalankan taktik, padahal tugasnya belum selesai. Timber dan Hincapie cukup banyak dapat beban di sini, ketika pikiran mereka seharusnya lebih simpel.
Akibatnya, di menit-menit krusial, decision making para full-back jadi ala kadarnya. Paling parah sih di mana Timber kehilangan bola berkali-kali saat lawan Wolves awayโฆ Huft.
Yang bikin dua contoh ini berhubunganโbaik cara lawan low-block maupun ngebongkar mid-blockโadalah standar teknis yang tinggi. Apa ya istilahnya? Technical security?
Standar teknis ini mengacu ke tindakan sebelum sampai saat memegang bola. Sabar, movement yang cair, kontrol bola yang pasti, dan eksekusi operan yang presisi. Pertahanan lawan akan terbongkar.
Ini yang gue rasa hilang di beberapa match Premier League belakangan di saat laga memasuki masa-masa krusial.
Seperti ada tempo dan ritme yang sumbang, padahal personelnya masih dia-dia juga.
Technical security, rasanya dia menurun di awal 2026 ini.
Jadi, Kenapa?
Oke, kita recap dulu catatan soal problem yang gue liat pas nonton Arsenal:
Di saat penting, kita punya tendensi meninggalkan struktur build-up. Terlihat oleh David Raya yang kerap mengabaikan opsi umpan pendek dan memaksakan umpan jauh ke penyerang yang lemah dalam duel udara. Akibatnya, permainan menjadi terlalu direct dan justru sangat menguntungkan lawan untuk menyerang balik.
Ketidakseimbangan profil pemain menyulitkan tim membongkar lawan. Contoh, waktu lawan Forest away: Sisi kiri (Martinelli, Rice, Timber) tidak memiliki chemistry yang pas
Kelemahan ini diperparah oleh pemilihan dan pergantian pemain yang gak cocok dengan lawan. Contoh: Menurunkan tiga tipe runner sekaligus (Gyokeres, Madueke, Martinelli) melawan low-block. Akibatnya, penggantinya malah gak sesuai kebutuhan - Misalnya, Jesus & Trossard yang masuk justru ketika lawan mulai terbuka
Semuanya bermuara di serangan yang gak efektif dan kesulitan untuk mengontrol permainan.
Jadi, kenapa?
Why #1: Kenapa serangan Arsenal gak efektif dan kesulitan untuk ngontrol permainan?
Karena kita justru menanggalkan sistem kita sendiri di momen krusial yang paling butuh sistem itu dijalankan. Pendekatan Arsenal untuk ngebongkar lawan itu bukan soal mengandalkan kekuatan fisik semata, melainkan sebuah proses berlapis yang dirancang untuk menciptakan chaos secara terkoordinasi.
Caranya: pancing lawan buat press lewat back-pass yang disengaja, tunggu satu pemain lawan keluar dari formasinya, lalu eksploitasi celah sekian detik yang kebuka di belakang dia. Kalau dieksekusi dengan benar, pertahanan yang tadinya solid bisa runtuh dengan sirkulasi bola yang sabar. Tadi udah dibahas lah.
Tapi sistem ini butuh sesuatu yang sebenernya susah banget dipertahankan: nahan insting. Insting alami setiap pemain, dan harapan setiap penonton, adalah bola harus bergerak ke gawang lawan secepat mungkin.
Raya lepas long ball ke pemain yang akan kalah duel udara. Fullback yang baru nerima bola di posisi menjanjikan di half-space malah buru-buru ambil keputusan. Hasilnya, kondisi yang seharusnya diciptakan sistem ini, lawan yang konsentrasinya buyar, gak pernah terwujud.
Pertahanan lawan malah tetap kompak dan teratur, dengan santai menyerap serangan langsung yang memang sudah mereka siapkan untuk dihadapi, dan seringkali langsung balik menyerang. Padahal niatnya mau lebih cepat, tapi ujung-ujungnya malah jalan di tempat.
Dan timbul pertanyaan keduaโฆ
Why #2: Kenapa kita ninggalin sistemnya di saat genting daripada jalanin proses yang udah dilatih?
Menurut gue, ngejalanin sistem di Arsenal bakal nuntut beban fisik dan pikiran yang luar biasa tinggi dari setiap individu secara bersamaan, dan beban itu makin berat seiring intensitas pertandingan naik.
Ketika emosi memuncak, pertandingan liga yang krusial, skor yang harus dikejar, penonton yang mulai tidak sabar, beban itu makin susah ditanggung. Pengambilan keputusan mulai ambil jalan pintas. Pemain balik ke pola yang lebih simpel dan instinctive.
Raya lihat Jesus ada di ruang kosong dan langsung lepas long ball daripada nunggu struktur build-up bekerja. Zubimendi gak terima bola dengan sabar dan mencari opsi terbaik. Timber terima bola di half-space dan, tanpa tujuan yang jelas di kepala, maksa umpan yang sebenernya gak ada. Martinelli โnabrak tembokโ untuk berkali-kali alih-alih mencari cara serangan lain.
Satu mata rantai yang putus bikin seluruh rangkaian runtuh. Pancingan press gak berhasil. Celah gak terbuka. Para runner gak punya target. Semua harus diulang dari awal, tapi waktu makin menipis dan tekanan yang lebih besar dari sebelumnya.
Di bawah tekanan pertandingan, apalagi ketika skor lagi imbang atau ketinggalan, atau justru malah ketika terburu-buru mau nambah keunggulan, insting itu jadi makin susah dilawan.
Btw, ngomongin soal โterburu-buru mau nambah keunggulanโ, ternyata Arsenal itu kalau unggul bukannya mereka kendorin serangan, tapi justru pertahanannya yang lebih rentan. Ini gue ambil dari Understat.
Sebelum kita ngomongin yang lebih jauh soal, โWah, Arsenal mainnya set piece meluluโ, โArsenal gak berani nyerang dari tengahโ - Kalau beban fisik dan pikiran ini gak teratasi, mau main pakai sistem apa pun ya mentahโฆ
Why #3: Kenapa beban emosional itu timbul di lapangan? Kenapa gak tenang aja sepanjang match?
Menurut gue, salah satu sebabnya karena personel yang ada di lapangan tidak selalu memberikan โtemplateโ yang bikin disiplin jadi lebih mudah dijaga.
Struktur serangan yang seimbang itu seharusnya bersifat saling menguatkan satu sama lain. Ketika ada Orchestrator, pemain yang punya kecerdasan dan ketenangan untuk pelankan permainan, baca posisi rekan dan lawan, dan pilih momen yang tepat untuk memicu umpan terakhir, beban kognitif seluruh tim jadi berkurang. Dribbler menciptakan chaos individual yang memberi Orchestrator waktu dan ruang. Pergerakan Runner membuka jalur yang bikin tugas Orchestrator jadi lebih mudah. Setiap profil membuat pekerjaan profil lainnya jadi lebih ringan.
Kalau keseimbangan itu gak ada, beban jadi tidak merata. Kalau tiga Runner main bareng, seperti Gyokeres, Madueke, dan Martinelli lawan Wolves, gak ada yang jadi โanchorโ untuk mereka. Semua pada cari ruang untuk dieksploitasi, tapi gak ada yang menentukan kapan dan ke mana bola harus dikirim untuk menciptakan ruang itu.
Hasilnya, setiap pemain menanggung beban individual yang jauh lebih besar dan ada pikiran ekstra.
Why #4: Kenapa komposisi pemain gak selalu cocok sama lawan, terutama ketika lawan udah ketahuan akan bermain seperti apa?
Komposisi pemain yang turun kadang tidak mencerminkan kecocokan dari lawan yang dihadapi Arsenal hari itu.
Contoh: Bongkar low-block itu masalah yang berbeda dibanding menghadapi tim yang pressing tinggi, atau tim direct yang main lewat target man.
Butuh kombinasi spesifik: Sabar dalam penguasaan bola, pemain yang bisa ciptakan chaos individual di ruang sempit, pergerakan cerdas off the ball yang timingnya pas untuk mengeksploitasi celah yang terbuka, dan distributor yang tenang untuk menemukan umpan yang tepat dalam waktu yang sangat singkat.
Satu saja bahan yang kurang bikin seluruh resepnya gagal.
Misalnya, kalau ada profil pemain yang terlalu mirip start bareng, resep itu sudah tidak lengkap sebelum pertandingan dimulai. Sistem sudah punya titik lemah sejak peluit berbunyi. Ini bukan masalah yang muncul di tengah pertandingan, ini celah struktural yang pasti akan ditemukan dan dieksploitasi oleh bentuk defensif lawan.
Alasan di balik pemilihan pemain gak melulu soal teknis, banyak hal di balik layar yang kita gak tau. Yang pasti, cedera membatasi opsi yang tersedia. Tingkat kebugaran atau form terkini seorang pemain mungkin membuatnya berisiko untuk diturunkan dalam peran yang demanding.
Bukayo had a lot of minutes and he had a niggle before the game so we need to manage our players. We have some fantastic players that can provide different things and we did try it from the beginning, we tried after half-time as well, taking more risks and bringing in even more players in those attacking options. We tried in every way and it wasn't enough unfortunately.
MIKEL ARTETA, SEBELUM LAWAN FOREST (0-0)
Atau mungkin ada niat taktis yang tidak langsung ketahuan, misalnya, menurunkan tiga runner dengan harapan bisa mengeksploitasi kelengahan pertahanan lawan jika kita berhasil menjalankan counter-press yang agresif.
Tapi apapun alasan yang mendasarinya, ketika keseimbangan struktural tidak nampak, sistem jadi jauh lebih susah dieksekusi, dan gap antara apa yang tim mampu lakukan di latihan dengan apa yang mereka hasilkan di bawah tekanan pertandingan semakin nyata.
Why #5: Kenapa kita tidak bisa menyesuaikan diri ketika satu komponen tidak lengkap?
Karena pada dasarnya, sistem Arsenal berjalan di atas timing dan chemistry, ia dirancang untuk presisi.
Setiap langkah dalam build-up adalah trigger untuk langkah berikutnya.
Back-pass ke center-back adalah sinyal bagi gelandang lawan untuk step up. Step up gelandang itu adalah sinyal bagi memainkan umpan menembus lini tengah. Umpan itu adalah sinyal bagi penyerang untuk mulai berlari. Kalau satu sinyal tidak terkirim, karena Orchestrator-nya tidak ada di lapangan, atau karena pemain yang harusnya jadi Orchestrator tidak punya kapasitas untuk membaca momen itu di bawah tekanan, tidak ada trigger yang memicu langkah selanjutnya.
Dan inilah yang membuat ketidakhadiran satu profil menjadi begitu fatal. Bukan karena satu pemain kurang, tapi karena tanpa profil itu, pemain-pemain lain kehilangan konteks untuk pergerakan mereka sendiri. Runner yang berlari tanpa Orchestrator yang siap memainkan umpan hanya menghabiskan energi. Dribbler yang menciptakan chaos tanpa Runner yang membaca timing-nya hanya menghasilkan chaos yang sia-sia.
Di sinilah tekanan pertandingan masuk dan memperparah segalanya. Ketika pemain sudah tidak bisa bersandar pada struktur kolektif untuk memandu keputusan mereka, mereka terpaksa berimprovisasi secara individual.
Dan improvisasi individual di bawah tekanan hampir selalu berujung ke insting yang paling dasar: kirim bola ke depan dan selesaikan secepatnya. Di sini lah set piece menjadi obat penawar kekacauan tersebut. Namun jika set piece tidak berhasil dan flow pertandingan tidak memihak kita? Di sini lah peran manager untuk membawa napas baru, pemain dari bench akan sangat berpengaruh.
Jadi, Intinyaโฆ
Sistem Arsenal dibangun di atas presisi. Tapi presisi yang ketat itulah yang sekaligus menjadi sumber kelemahannya. Jika satu profil tidak ada, pemain lain kehilangan konteks untuk pergerakan mereka sendiri, trigger putus di tengah jalan, dan jalan keluar adalah dengan โsurviveโ di lapangan dengan tidak kebobolan.
Makanya, set piece benar-benar jadi kunci Arsenal selama ini, karena ketika sudah dapat set piece, flow di lapangan seakan tidak berlaku. Terlepas dari flow pertandingan, ketika satu set piece berhasil dikonversi, lajunya pertandingan akan berubah.
Selain set piece, apa lagi?
Yang gue tau, solusinya sudah tersedia dalam internal Arsenal. Tim ini sudah berjalan lebih dari setengah musim. Udah panjang lebar gue bahas soal komposisi dan kesimbangan profil pemain. Jadi, gue berharap kita bisa dengan proaktif memainkan komposisi yang lebih cocok dengan tuntutan pada match tersebut.
Solusinya dong?
Oke, tadi gue udah banyak bicara soal mental load dan keseimbangan profil di lapangan. Maka, solusi yang ada di kepala gue adalah bagaimana komposisi tim bisa diatur agar profil tiap pemain seimbang dan membuat tim menanggung beban yang seharusnya. Bahasa teknisnya: Platforming.
1) Default Mode
Di kepala gue, ada komposisi starting XI yang nampaknya cocok buat melawan semua tipe lawan karena profil pemain yang seimbang di setiap lini.
Kiper: Raya
Bek tengah: Saliba + Gabriel
Bek sayap: Calafiori + Timber/White (Based on fitness)
3 gelandang: Rice + Zubimendi + Odegaard
3 penyerang: Saka + Eze/Trossard (Based on fitness) + Havertz
Ada dua โOrchestratorโ yang bergerak maju-mundur sesuai kebutuhan. Saka sebagai โDribblerโ. Havertz dan kedua fullback yang memainkan peran โRunnerโ yang mengeksploitasi ruang kosong di pertahanan lawan. Formasi ini juga yang menurut gue paling balance dan bisa di-adjust dengan profil pemain yang berbeda (Contoh: Gyokeres, Martinelli) ketika dibutuhkan.
Skenario yang gue bayangin: Arsenal unggul 1-0 di menit ke-55 lawan tim papan tengah yang punya formasi 4-5-1.
Zubimendi terima bola dari Saliba, pancing satu press, balik lagi ke Saliba. Saliba hold. Striker lawan naik lebih tinggi yang lain, bentuk pressing gak lurus. Zubimendi langsung temukan Odegaard di tengah. Odegaard, sekarang punya ruang, bisa kasih ke Saka buat 1v1 dari kanan. Timber sudah di half-space kanan, narik bek kanan lawan keluar lebih jauh. Eze di sisi kiri sudah menunggu di tepian kotak penalty untuk tetap menjaga serangan tetap berlangsung. Tetap tenang walau pertandingan sudah berjalan lebih dari setengahnya.
Kuncinya: Gak ada dua pemain yang berdekatan punya profil yang sama. Odegaard dan Zubimendi sama-sama jadi Orchestrator, tapi tempat, satu lebih dalam, satu lebih tinggi. Eze/Trossard dan Saka sama-sama dribbler, tapi Saka bikin chaos di kanan sementara Eze cari ruang. Havertz yang berlari ke kiri dan kanan lapangan untuk memfasilitasi serangan dari kedua sisi. Balanced.
2) Ketemu low-block
Jika lawan sudah masuk ke mode parkir bus dan kita lagi kejar skor, berarti ada 5 pergantian yang akan coba dimaksimalkan:
Pergantian pemain pertama:
Odegaard โ Madueke. Saka pindah ke tempatnya Odegaard. Zubimendi jadi pengatur serangan utama. Zubimendi yang stay karena punya kemampuan duel yang lebih baik dari Odegaard
Gabriel/Hincapie โ Eze/Trossard. Gabriel keluar ini gambling banget sebenarnya. Tukar bek dengan penyerang. Kalau ada Calafiori, dia pindah ke bek tengah. Tapi logic-nya adalah kita maksimalkan bek-bek yang lebih bagus pegang bola secara teknikal: Saliba + Calafiori. Di sisi kiri, Eze sama Trossard main bareng berdekatan sebagai pemain yang nyaman pegang bola. Bergantian jadi Runner & Dribbler.
Pergantian pemain kedua:
Timber โ White, atau sebaliknya. Untuk menyegarkan pemain yang overlap di RB.
Sisanya sesuai fitness aja, gantiin yang capek
Tambahan: Jika butuh lebih ekstrem, gue akan masukkan Martinelli menggantikan Timber dan Rice yang masuk jadi RB
Skenario pertandingan: Arsenal 0-0, menit ke-60. Lawan sudah full parkir bus sejak menit ke-30. Masih bisa ganti lima pemain.
Sampai menit ke-60, Arsenal sudah coba trigger mekanisme back-pass berkali-kali. Lawan tidak kemakan. Mereka tetap compact, tidak ada yang step up. Bola Arsenal muter-muter di luar kotak, sesekali Saka coba dribble masuk tapi selalu ditutup dua orang. Frustrasi mulai kelihatan.
Arteta putuskan: saatnya ubah pola serangan sepenuhnya. Odegaard keluar dan Madueke masuk. Saka geser ke #10. Ini pergantian yang paling mengubah cara lawan baca Arsenal. Selama 60 menit, lawan sudah hafal: Saka itu ancaman dari kanan, Odegaard itu yang atur dari tengah. Mereka sudah set marking berdasarkan itu.
Begitu Saka pindah ke tengah, tiba-tiba bek kiri lawan kehilangan โmangsanya.โ Dia tidak tahu harus ikut Saka ke tengah atau hold posisinya. Kalau dia ikut, dia meninggalkan channel kiri yang sekarang diisi Madueke dari kanan dan Eze dari kiri. Kalau dia hold, Saka bebas terima bola di half-space kiri.
Zubimendi terima dari Saliba. Sekarang peran Zubimendi berubah, dia bukan lagi deep pivot yang menunggu, tapi pengatur serangan utama. Dia dribble sedikit maju, mancing satu gelandang lawan untuk track dia. Saka, yang sekarang di #10, bergerak ke celah antara dua bek tengah lawan.
Zubimendi kasih ke Saka. Saka terima dengan punggung ke gawang ini. Saka sebagai #10 (mestinya) bisa putar badan, dan drive ke dalam. Bek tengah lawan yang biasanya handle winger, sekarang tiba-tiba face-to-face sama Saka di ruang sempit. Mereka tidak terlatih untuk itu. Saka berbalik ke kiri, kasih ke Eze yang lari diagonal. Cutback. Terlambat diblok. Corner.
Yang harus diperhatikan: Zubimendi tidak boleh ikut-ikutan naik hanya karena Arsenal sedang desperate. Dia adalah satu-satunya โremโ yang menjaga Arsenal tidak kena counter dengan kosong di belakang. Dengan Rice geser ke RB (Kalau low-block lawan sangat ekstrim) dan bek hanya bertiga, kalau Zubimendi juga naik, Arsenal bisa kebobolan gol yang memalukan dari satu transisi cepat lawan.
Timing itu penting! Pergantian-pergantian ini tidak boleh dilakukan terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat (menit ke-50), lawan punya waktu untuk adjust. Terlalu lambat (menit ke-85), tidak ada waktu untuk eksekusi. Window idealnya antara menit ke-60 sampai ke-70 untuk gelombang pertama dan kedua pergantian, dengan opsi ekstrem hanya kalau memang situasi sudah benar-benar darurat.
3) Kill the game: 2 skenario
Skenario 1 - Lawan masih main rapat dan menumpuk pemain di tengah. Maka adjustment yang akan diambil adalah sebagai berikut:
Pergantian pemain pertama:
Odegaard โ Jesus (atau Merino seandainya dia gak cedera). Jesus/Merino ambil posisi false 9, sementara Havertz ambil posisi Odegaardโฆ Sebenarnya gue lebih prefer kalau kita masih punya Merino, lebih reliable untuk off the ball :โ) - Gak papa deh gue tetap tulis seakan-akan Merino avaibale, wkwk
Eze/Trossard โ Martinelli
Sisanya sesuai fitness aja
Logikanya: Gue kepikiran gol-gol kita lawan Wigan di mana lawan kita ketarik ke depan dan ada runner (Martinelli/Havertz) yang mengambil posisi yang ditinggalkan di belakangโฆ Havertz tetap gue pasang daripada Gyokeres untuk kemungkinan duel udara dan menahan bola.
Skenario pertandingan: Arsenal 1-0, menit ke-65. Lawan sudah parkir rapi di 4-5-1, menumpuk pemain di tengah. Lima pergantian masih tersedia.
Havertz sudah ada di lapangan sejak awal sebagai striker. Saka di kanan, Eze/Trossard di kiri, Rice-Zubimendi sebagai pivot. Pergantian pemain adalah Jesus/Merino & Martinelli, formasi menjadi: Saka kanan, Havertz #10, Merino/Jesus false 9 yang terus-terusan drop ke tengah, Martinelli kiri.
Lalu, gue kebayang permainan berjalan seperti ini:
Zubimendi terima dari Saliba. Merino/Jesus langsung drop mendekati Zubimendiโ turun jauh ke tengah lapangan, jauh dari kotak penalty. Bek tengah kanan lawan mengikuti. Ini yang kita inginkan.
Satu bek tengah sekarang ada di luar kotak penalti, mengikuti false 9 yang memang sengaja mancing dia keluar. Zubimendi kasih ke Merino/Jesus, lalu satu sentuhan ke Havertz yang lari dari belakang menuju zona yang ditinggalkan bek tengah tadi. Lawan tidak bisa cover ini karena bek yang harusnya jaga zona itu sudah ikut Jesus ke depan.
Havertz terima di half-space kiri, menghadap gawang. Dia tidak buru-buru. Saka sudah mulai diagonal run dari kanan ke dalam kotak. Martinelli dari kiri berlari ke tiang jauh, dua runner bergerak bersamaan dari dua sisi berbeda.
Havertz lihat Martinelli dan Saka. Dia pilih Saka yang jalur larinya lebih clean karena bek kiri lawan masih tracking Martinelli. Umpan ke Saka di dalam kotak. Saka cut balik ke Havertz atau langsung shoot.
Skenario 2 - Lawan main lebih terbuka, mereka gambling untung-untungan. Maka adjustment-nya adalah
Pergantian pertama:
Odegaard โ Gyokeres. Havertz ambil posisi Odegaard. Gue mau memaksimalkan chemistry mereka berdua
Eze/Trossard โ Martinelli. Berdua sama Gyokeres buat lari untuk stretch lini belakang lawan
Pergantian kedua:
Timber โ White. Tambah opsi pemberi bola direct ke depan
Sisanya sesuai fitness aja. Waktunya masukin Norgaard, Mosquera, atau Hincapie untuk body yang lebih segar di tengah dan belakang.
Logikanya: Ketika lawan mulai berani keluar menyerang, jarak antar lini belakang dan lini tengah lawan akan terbuka. Di sinilah saatnya Gyokeres dan Martinelli yang harus jeli mencari ruang tembak akan beraksi.
Skenario pertandingan: Arsenal 2-0, menit 70. Lawan mulai mencari gol balasan.
Zubimendi terima dari Calafiori. Dia langsung angkat kepala, bukan untuk cari opsi pendek, tapi untuk baca posisi lini belakang lawan.
Fullback kiri lawan sudah naik. Ada ruang di belakangnya, antara dia dan bek tengah kiri. Gyokeres sudah baca ini dari posisinya, dia mulai timing larinya.
Zubimendi kasih ke Havertz yang drop sedikit minta bola. Havertz terima, satu touch ke depan, langsung lihat Gyokeres yang mulai lari ke channel kanan lawan yang terbuka tadi.
Umpan through ball dari Havertz ke Gyokeres masuk. Havertz tahu persis kapan Gyokeres mulai lari dan ke mana dia berlari. Gyokeres masuk ke sisi kanan, 1v1 sama bek tengah yang harus buru-buru nutup. Martinelli dari kiri berlari ke kotak penalty sisi kiri untuk isi ruang. White dari kanan overlap, kasih opsi ke sisi luar.
Gyokeres bisa dapat peluang tembak, tapi sebenarnya dia tidak perlu finish sendiri, dia bisa umpan tarik ke Martinelli yang ikut masuk ke kotak penalty, atau pull back ke Havertz yang terus berlari dari belakang. Bikin chaos.
Pada akhirnya, semua yang sudah dibahas di atas bermuara ke satu prinsip sederhana: Pemilihan pemain perlu lebih dari siapa untuk pemain yang lagi on-fire di training atau match sebelumnya, tapi sebuah keputusan yang harus mempertimbangkan karakter lawan yang akan dihadapi.
Memang kondisi tidak akan selalu ideal. Cedera memang akan selalu jadi faktor yang tidak bisa dikontrol, dan ketika pemain inti absen, ritme tim pasti terganggu.
Tapi di sinilah pentingnya punya core yang solid: Raya, Saliba, Gabriel, Rice, Zubimendi, Havertz, dan Saka. Tujuh pemain ini adalah tulang punggung yang menjaga identitas dan ritme tim tetap utuh meski ada rotasi atau cedera di sekitarnya, dan mereka juga siap dilapis oleh para pemain pengganti.
Selama tujuh pemain ini ada di lapangan, fondasi sistem tidak akan goyah, karena mereka sudah cukup mewakili semua profil yang dibutuhkan: ketenangan di belakang, kontrol di tengah, dan ancaman di depan.
Tugas supporting cast, entah itu Odegaard, Eze, Trossard, Martinelli, Madueke, Gyokeres, Calafiori, Timber, White, Jesus, Norgaard, Lewis-Skellyโฆ Adalah menjadi pemain yang melengkapi sesuai dengan kebutuhan pertandingan.
Kalau Saka sudah jadi Dribbler, jangan tambahkan profil Dribbler lain di sebelahnya. Kalau Havertz sudah jadi Runner yang bisa hold bola di depan, jangan tambahkan Runner lain yang cari ruang yang sama. Mix and match supporting cast berdasarkan apa yang memang dibutuhkan untuk menghadapi lawan, baik untuk Starting XI maupun saat pertandingan sudah berjalan.
Kalau prinsip ini bisa dijalankan secara konsisten. Pemain tidak perlu lagi merasa punya mental load yang terlalu berat. Setiap profil punya tugas berbeda dengan pemain di dekatnya, setiap pergerakan punya tujuan, dan setiap pemain tahu bahwa ada โtrigger berikutnyaโ yang akan datang selama mereka jalankan bagiannya dengan benar. Lalu ketika ada kendala di lapangan, para pemain pengganti a.k.a finisher siap me-refresh kembali pola kita di lapangan.
Ketika mental load berkurang, gue sangat berharap Arsenal akan lebih mantap menjalani laga dengan konsisten dari awal sampai akhir. Yang bisa menenangkan para pemain bukan (hanya) teriakan dari pinggir lapangan, tapi juga pesan yang disampaikan melalui pergantian pemain yang akurat.
Buktinya? Gak perlu melihat terlalu jauh. Hasil yang kita dapat di Leeds Away (Odegaard masuk untuk menambah kontrol) dan Sunderland Away (Martinelli + Gyokeres masuk untuk mengeksploitasi ruang) memperlihatkan bahwa adjustment pada komposisi pemain tergantung pada jalannya laga akan sangat-sangat bisa menjaga momentum kemenangan.
Penutup
Kita kembali ke hasil imbang lawan Wolves 2-2. Here are things going on in my headโฆ
Kita lihat secara Expected Goals (xG), Arsenal mencetak kurang lebih 1.8 dan Wolves 0.2.
Secara probabilitas, xG 1.8 berbanding 0.2 itu akan berbuah kemenangan di kebanyakan pertandingan, dan kecil kemungkinan bahwa lawan akan mengejar 2 gol.
Kalo lo tanya gue, gue mau-mau aja kalau semua match kita kedudukan secara xG semuanya 1.8 vs 0.2 sampai akhir musim. Gue gak masalah kalo tim bisa jaga output-nya di angka ini
APALAGI kalo lo liat di gol kedua Hincapie, garis pertahanan Wolves ambyar. Yerson Mosquera gampang ketarik sama Gyokeres sehingga Hincapie bisa masuk ke kotak penalty.
Ketika pertandingan berjalan seperti ini dan lo gak menang, mungkin bisa dibilang ada faktor ketidakberuntungan
TAPI, seperti yang gue bahas juga di awal sebagai pembuka. Dari menit 57 ke atas, kita gak main seperti tim yang bisa mencetak xG 1.8 - Semua buyar setelah gol kedua, dan pergantian pemain nggak membantu. In Premier League, we donโt have the privilege to be shit for 30+ minutes. 5-10 menit okelah, namanya juga lawan pasti ngelawan. So, dalam konteks Arsenal away ke Wolves, xG is kind of irrelevant buat ngeliat jalannya pertandingan, karena dari satu periode ke periode lain bisa beda banget
Jadi, ini lebih dari gak beruntung gak sih? Momentum pertandingan shift dari menit 60 ke atas jadi lebih back and forth. Berarti ada sepertiga match di mana kita seimbang dengan juru kunci Premier League.
Yah, akhirnya kita tau. Hasil 2-2 ini menjadi hasil yang seakan-akan dinanti semua orang. Fans rival, media, bahkan fans Arsenal sendiri. Kritik yang masuk apakah justified atau over the top? Entahlah, itu tergantung kepala kalian masing-masing
Arteta juga bilang, semua kritik yang masuk โharus ditelanโ, karena memang standar semua buyar di periode itu. Dan gue yakin, mostly dia ngomong gini buat dirinya sendiri
Yang gue percaya, the truth has to be somewhere in the middle. Di tengah-tengah antara catatan statistik yang bisa misleading dan antara caci-maki yang over the top.
Pemilihan pemain dan taktik bukan hal yang mudah. Cedera membuat pilihan terbatas. Kadang kita harus pilih pemain berdasarkan fitness. Intinya, tim internal Arsenal punya insight lebih dari apa yang kita tonton di layar kaca, dan bisa jadi insight tersebut membuat yapping gue di sini jadi mentah, hahaha.
Yang mau gue garis bawahi, argumen gue bukan berarti ketika Arteta pilih pemain yang โbenarโ, maka semua akan baik-baik saja. Argumen gue adalah, ketika kita punya opsi untuk itu, effort untuk memilih profil pemain yang lebih balance akan worth it. Ketika pemain bermain sesuai profilnya, siapa tau permainan akan menjadi sedikit lebih ringan. Dan ketika sedikit lebih ringan, pemain mulai enjoy.
Gak ada statistik yang bisa mengukur โEnjoymentโ - Tapi, entah kenapa gue punya keyakinan bahwa pemain yang lebih enjoy akan lebih fit dalam menjalani match-match ke depannya. Kemenangan akan menjadi penawar rasa lelah. Dan dengan memilih pemain sesuai peruntukannya, rotasi akan terbentuk secara alami. We have all the material.
Taktik yang tepat emang bisa ngebantu meringankan beban di lapangan. Pemain dengan profil yang pas juga bisa bikin sistem mainnya kerasa ngalir dan nggak keliatan maksa.
Tapi jujur aja, nggak ada yang bisa ngebalikin mental dan ketenangan sebuah tim seampuh raihan tiga poin. Momentum itu punya magic tersendiri.
Terus, di mana posisi fans kayak kita ini?
Gue nggak mau ngedikte siapa pun.
Tapi, menurut gue, harusnya di tengah-tengah.
Fans yang pengen timnya selalu main perfect dan kill the game tiap minggu tuh nggak sepenuhnya salah, karena gue yakin para pemain juga maunya begitu. Di sisi lain, fans yang ngerem ekspektasi sempurna itu, yang lebih ngulik dan bawa-bawa data xG plus apa aja yang jadi handicap kita untuk justifikasi apa pun hasil di lapanganโฆ Juga nggak sepenuhnya salah.
Two different things can be right and the truth has to be somewhere in the middle.
Gue pribadi, karena gak bisa apa-apa juga selain nonton, yang gue lakukan adalah learn the game more (Menghindari kemakan narasi-narasi asbun, wkwk) dan sekaligus berharap semoga tim ini bisa bener-bener enjoy themselves while keeping the standards high. Semoga entah gimana ini bisa terhitung sebagai support yang energinya nyampe ke pemain.
Turning my back on the team would never be an option.
We have titles to win.
Come On You Gunners!




















